Highlight

Disiplin Lapar, Etos Berkarya: Membedah Filosofi Puasa sebagai Pemantik Produktivitas Beradab

oplus 16908288

​MADURA | INTIJATIM.ID – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang menuntut efisiensi tanpa batas, ibadah puasa Ramadan seringkali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Muncul anggapan bahwa menahan lapar dan dahaga hanya akan melemahkan fokus, menurunkan kinerja, hingga memperlambat laju ekonomi. Namun, benarkah demikian?

​Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura sekaligus Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menepis anggapan tersebut dengan tegas. Menurutnya, puasa justru merupakan sebuah “institusi etika” yang merekonstruksi makna produktivitas dari sekadar angka menjadi sebuah nilai ibadah yang luhur.

​Dalam perspektif sosiologis dan religius, Achmad Muhlis menjelaskan bahwa Islam tidak pernah mendesain puasa untuk melumpuhkan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, Ramadan hadir untuk mendidik manusia agar bekerja secara beradab.

​”Puasa menghadirkan logika self-limitation atau pembatasan diri. Jika modernitas kapitalistik memacu manusia untuk akumulasi tanpa batas, puasa mengajarkan bahwa fondasi etos kerja yang kuat justru lahir dari kemampuan mengendalikan diri,” katanya.

Muhlis menekankan bahwa, selama Ramadan, yang berubah hanyalah pola dan ritme, bukan substansi kerja. Intensitas spiritual yang meningkat justru melahirkan relasi sosial yang lebih empatik dan penuh tanggung jawab di lingkungan kerja.,

“​Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kemampuan menunda gratifikasi (delayed gratification). Secara psikologis dan spiritual, menahan lapar dengan kesadaran penuh merupakan bentuk tazkiyat al-nafs (pembersihan jiwa),” jelasnya.

​Praktik ini, menurut Muhlis, berkorelasi langsung dengan kemampuan menghadapi tekanan kerja dengan kepala dingin, dan menghindari jalan pintas yang merugikan orang lain, serta kedisiplinan jadwal sahur, imsak, dan berbuka adalah kurikulum nyata dalam melatih komitmen.

​Lebih jauh, Achmad Muhlis menyampaikan kritik ontologis terhadap dunia kerja modern yang kerap memandang manusia layaknya mesin produksi. Puasa mengingatkan bahwa manusia adalah subjek bermoral.

​”Produktivitas yang sejati dalam Islam tidak diukur semata oleh kuantitas output, tetapi oleh kualitas niat, proses, dan dampak sosialnya,” tambahnya, sembari menyebut kerja (‘amal) adalah bagian integral dari ibadah. Islam sangat mengecam kemalasan, namun juga menolak kerja yang rakus dan eksploitatif.

​Meski puasa memiliki potensi besar meningkatkan work meaningfulness (kebermaknaan kerja), Muhlis mengingatkan pentingnya peran pemimpin organisasi. “Agar puasa tidak menjadi faktor stres fisik, diperlukan kebijakan yang adaptif, seperti fleksibilitas jam kerja dan budaya empati,” ungkapnya jelas.

​Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum emas untuk melahirkan manusia yang produktif sekaligus beradab.

​”Ramadan mengajarkan kita untuk bekerja secukupnya, berkarya sebaik-baiknya, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Di sinilah puasa dan etos kerja bertemu: bekerja adalah ibadah ketika dijalankan dengan kejujuran dan kepedulian sosial,” pungkas Muhlis. (Say/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!