Highlight

Lari Berkah di Kampung NU Magetan, Syiar Tradisi Ketupat Melalui Ketupat Fun Run 2026

oplus 16908288

MAGETAN | INTIJATIM.ID – Suasana syahdu di Dusun Joso, Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, mendadak semarak, pada Sabtu (28/03). Ratusan warga berkumpul bukan hanya berolahraga, melainkan untuk merayakan sebuah konsistensi dakwah kultural dalam helatan Ketupat Fun Run Kampung NU Magetan 2026.

​Event yang memadukan kesehatan jasmani dan kekuatan tradisi ini dihadiri langsung oleh Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti. Sebanyak 200 peserta tampak antusias menempuh rute lari santai sejauh 5 kilometer menyusuri asrinya alam Kecamatan Panekan.

​Lebih dari sekadar ajang lari, kegiatan ini merupakan syiar budaya yang telah mengakar. Ketua Panitia, Muzakir, mengungkapkan bahwa Wisata Ketupat di Kampung NU ini bukanlah agenda kemarin sore.

​”Tradisi ketupat di Kampung NU telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2017. Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-10. Ini adalah momentum luar biasa bagi kami untuk menjaga warisan leluhur,” ujarnya dalam sambutannya.

​Penyelenggaraan yang konsisten selama satu dekade ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan (jamaah) dan rasa syukur yang disimbolkan melalui ketupat tetap hidup di tengah arus modernisasi.

​Bupati Nanik, dalam arahannya, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi masyarakat Desa Turi. Menurutnya, melestarikan tradisi ketupat adalah bagian dari menjaga identitas religius masyarakat Magetan.

​“Atas nama Pemerintah Kabupaten Magetan, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya. Kegiatan ini memiliki nilai strategis, tidak hanya sebagai pelestarian budaya tetapi juga pengembangan pariwisata yang berbasis nilai lokal,” ungkap Bunda Nanik, sebutan akrab Bupati Magetan.

Bupati berharap, kegiatan syiar Kampung Wisata Ketupat NU ini terus ditingkatkan kualitasnya di masa mendatang, sebagai bentuk dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan nyata) yang dapat membawa kemaslahatan bagi ekonomi dan kesehatan warga,” jelasnya.

​Berbeda dengan lomba lari pada umumnya, Ketupat Fun Run tahun ini diselenggarakan tanpa dipungut biaya (gratis). Fokus utamanya bukan pada siapa yang tercepat mencapai garis finish, melainkan sebagai perekat tali silaturahmi antarwarga, menjaga tubuh sehat sebagai sarana ibadah, serta merayakan filosofi ketupat (ngaku lepat) dengan penuh sukacita.

​Acara yang berlangsung khidmat namun meriah ini membuktikan bahwa olahraga dan nilai-nilai religius dapat berjalan beriringan, menciptakan raga yang kuat dan jiwa yang tetap berpijak pada akar tradisi. (Red/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!