Highlight

Menu Kering MBG di Ngawi Jadi Sorotan, Begini Tanggapan SPPG Ngawi Margomulyo 2

oplus 16908288

NGAWI | INTIJATIM.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan nutrisi siswa, kini justru memicu polemik di Kabupaten Ngawi. Warga dan orang tua siswa mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran setelah menu “kering” berupa roti dan abon sapi dianggap tidak sebanding dengan pagu anggaran Rp15.000 per porsi.

Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial (medsos) dan memantik beragam komentar dari netizen. Kritik tajam bermula dari unggahan akun Solikin di grup media sosial lokal yang mempertanyakan kualitas menu tersebut.

“Bujet 15.000 dapatnya kaya gini, apa cuma buat ajang korupsi doang apa gimana,” tulisnya, sembari mempertanyakan penggunaan anggaran tersebut kepada Bupati Ngawi.

Keluhan senada juga dilontarkan oleh akun Areva Sista. Ia menceritakan anaknya menerima pisang goreng, telur, kacang klici, dan buah pisang kepok dalam satu paket.

“Podo karo anakku lur, MBG hari ini membangongkan entuk e gedang goreng, telor karo buahe gedang kepok satu karo kacang klici, seng tak herani wes olehe gedang goreng lha kok buahe yo gedang, jan bangeten.” timpalnya.

Sementara, akun Ludi Hartanto berkomentar, “Hampir semua di daerah sama menunya abon dan roti. Mungkin sapi yang kepala MBG bilang ribuan sapi dalam bentuk sachet.”

Hal senada juga diungkapkan warga yang engan disebut namanya, “Menu MBG kering padahal tidak ada operasional masak tapi kok tambah makin hari makin miris,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Margomulyo Ngawi 2, Afrizal, angkat bicara. Ia membenarkan bahwa menu roti, abon sapi, dan pisang ambon tersebut berasal dari pihaknya dan mengklaim telah memenuhi standar gizi.

“Energi 277 kkal, protein 16 gram, lemak 7 gram, karbohidrat 44 gram, serat 3,4 gram,” ungkap Afrizal dalam keterangannya.

Ia juga mengklaim bahwa komposisi tersebut sudah disesuaikan dengan anggaran. Rinciannya, roti seharga Rp3.500, pisang ambon Rp2.000, dan abon sapi Rp4.000, sehingga total bahan pangan Rp9.500 per porsi. “Itu sudah sesuai budget, nanti saya coba perbaiki,” ujarnya.

Lebih lanjut, Afrizal menjelaskan, berdasarkan ketentuan dari Badan Gizi Nasional, dengan pagu anggaran MBG sebesar Rp15.000 per porsi. Porsi kecil Rp8.000 dan porsi besar Rp10.000 untuk bahan makanan.

“Sementara itu, biaya operasional seperti distribusi, listrik, gas, gaji karyawan, air, dan kebutuhan lain sebesar Rp3.000. Kemudian Rp2.000 dialokasikan untuk biaya fasilitas, termasuk sewa tempat dan pemeliharaan peralatan dapur. Dengan demikian, total anggaran mencapai Rp15.000 per porsi,” papar Afrizal, Kamis (26/2).

Masyarakat menyoroti adanya selisih dan efisiensi yang dirasa kurang berpihak pada siswa. Dengan pagu maksimal bahan makanan yang seharusnya bisa mencapai Rp10.000 untuk porsi besar, penggunaan Rp9.500 untuk menu “kering” dianggap terlalu minimalis dan tidak mencerminkan semangat “Makan Bergizi” yang segar dan mengenyangkan.

Kritik warga Ngawi ini menjadi sinyal keras bagi pemerintah daerah dan Badan Gizi Nasional untuk mengevaluasi implementasi MBG di tingkat bawah. Tanpa pengawasan ketat dan transparansi komposisi harga, program nasional ini dikhawatirkan hanya akan menjadi formalitas administratif yang mengabaikan esensi gizi bagi generasi mendatang. (Mei/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!