Highlight

Menu MBG di Magetan Jadi Sorotan, Dikpora Bakal “Turun Tangan” Investigasi ke Lapangan

oplus 16908288

​MAGETAN | INTIJATIM.ID – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Magetan mulai memicu riak di tengah masyarakat. Munculnya keluhan terkait kualitas dan porsi menu selama bulan Ramadhan mendorong Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Magetan, untuk segera mengambil langkah evaluasi bersama Satgas tingkat kabupaten.

​Kepala Dikpora Magetan, Suwata, menyatakan bahwa, pihaknya memiliki mandat penuh untuk melakukan investigasi jika ditemukan indikasi ketidaksesuaian standar dalam pelaksanaan program pusat ini.

​Kewenangan daerah untuk mengawasi jalannya MBG ditegaskan Suwata usai melakukan rapat koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) di Madiun baru-baru ini.

​”Pemerintah daerah bisa melakukan investigasi terhadap keberlangsungan program, baik dari sisi komposisi menu maupun kualitas bahan baku yang digunakan,” tegasnya, Selasa (24/2/2026).

​Langkah ini diambil setelah foto-foto menu MBG yang diduga tidak sesuai standar beredar luas di media sosial dan grup percakapan warga. Meski sekolah belum melapor secara formal, Suwata mengakui adanya keluhan terkait porsi makanan dari pihak panti.

​”Salah satu poin kritis yang menjadi sorotan adalah posisi sekolah yang pasif dalam rantai penyediaan. Selama ini, pihak sekolah hanya bertindak sebagai penerima manfaat, sementara proses teknis dan penyediaan makanan sepenuhnya dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG),” jelas Suwata kepada intijatim.id

Selain berkoordinasi dengan Satgas kabupaten, Dikpora berencana akan menghubungi koordinator MBG tingkat SD dan SMP untuk verifikasi data. Selain itu, OPD yang menaungi pendidikan daerah ini akan mengecek langsung apakah ada perbedaan standar kuantitas makanan antara hari biasa dan bulan puasa.

Suwata jug mengingatkan, bahwa standar gizi yang tinggi akan sia-sia jika makanan tersebut berakhir di tempat sampah. Ia mendorong adanya evaluasi berbasis selera siswa.

​”Harapannya menu itu selain memenuhi standar gizi juga disukai anak-anak. Jangan sampai dibawa pulang tapi tidak dimakan karena tidak suka. Itu mubazir,” ungkapnya.

Dikpora Magetan menyarankan agar SPPG dan pihak sekolah melakukan sampling langsung kepada siswa. “Langkah ini dianggap penting agar program pemerintah yang menelan anggaran besar ini tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi benar-benar memberikan dampak kesehatan bagi generasi muda di Magetan,” tutup Suwata. (Red/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!