Polemik “Besi Menyembul” JUT Ngawi, Kegagalan Konstruksi atau Beban Overkapasitas?
NGAWI | INTIJATIM.ID – Infrastruktur Jalan Usaha Tani (JUT) di salah satu desa di Kabupaten Ngawi kini tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, jalan beton yang baru berusia sekitar empat tahun tersebut menunjukkan kerusakan ekstrem dengan besi tulangan yang mencuat ke permukaan. Fenomena ini memicu perdebatan sengit antara tudingan kegagalan tata kelola proyek dengan pembelaan faktor teknis di lapangan.
Dekan FISIP Universitas Soerjo Ngawi, Khoyrul Anwar, menyoroti bahwa kerusakan tersebut bukan sekadar masalah teknis biasa. Menurutnya, dalam standar rekayasa sipil, jalan beton seharusnya memiliki umur rencana hingga puluhan tahun.
”Terbukanya tulangan baja hingga hampir rata mengindikasikan ketidaksesuaian concrete cover (selimut beton), mutu beton yang rendah, atau pelaksanaan yang tidak memenuhi kaidah teknis,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Lebih lanjut, Khoyrul menegaskan bahwa, secara kebijakan publik, ketidaksesuaian antara umur rencana dan realitas faktual ini membuka ruang dugaan adanya praktik manipulasi spesifikasi. Ia mendorong adanya audit teknis dan kepatuhan untuk memastikan apakah ada kerugian negara dalam proyek tersebut.
Di sisi lain, mantan Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah, Yusuf, yang bertanggung jawab atas proyek tahun 2021 tersebut, memberikan klarifikasi. Ia membantah adanya pengurangan kualitas dan mengeklaim proyek senilai Rp200 juta itu telah melewati prosedur monitoring dan evaluasi (monev) dari Inspektorat dengan hasil baik.
Yusuf memaparkan, secara teknis, Ia sengaja memilih menggunakan tulangan (otot) meski anggarannya terbatas, demi kekuatan jalan. Sedangkan jalan yang dirancang untuk beban maksimal 6 ton, dalam realitasnya sering dilalui kendaraan pengangkut hasil panen bermuatan lebih dari 10 ton secara terus-menerus selama hampir lima tahun.
”Yang dananya miliaran saja banyak yang sudah rusak. Proyek saya ini bisa bertahan hampir lima tahun dengan beban seberat itu. Dana perbaikan sebenarnya sudah ada di anggaran desa, tinggal menunggu realisasi,” tandasnya.
Persoalan ini menunjukkan pentingnya sinkronisasi antara perencanaan teknis dan pengawasan penggunaan infrastruktur di tingkat desa. Ketidaksesuaian antara kapasitas jalan dan tonase kendaraan yang melintas menjadi rapor merah bagi manajemen transportasi hasil tani.
Kini, bola panas ada pada pemerintah daerah dan inspektorat untuk membuktikan apakah kerusakan ini murni karena faktor alam dan beban kendaraan, ataukah ada “penyunatan” kualitas material sebagaimana yang dikhawatirkan kalangan akademisi. (Mei/IJ)
![]()



Post Comment