Highlight

Refleksi Hari Pers Nasional: Ketika Pers Diminta Sehat, tapi Ekonomi Pelakunya Belum Berdaulat

gridart 20260209 111129073

Oleh: Arvendo Mahardika

Saya tersenyum getir membaca tema Hari Pers Nasional tahun 2026 ini, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”.

Di satu sisi, tema bagus ini tentu berupaya menumbuhkan optimisme. Di sisi lain, ia mengingatkan pada kenyataan bahwa ekonomi pelaku pers itu sendiri belum sepenuhnya berdaulat. Berbicara tentang bangsa yang kuat terasa terlalu jauh, ketika kemampuan untuk kuat menopang kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan bagi banyak insan pers.

Di balik berita yang terbit setiap hari, ada wajah-wajah yang jarang terlihat. Ada jurnalis yang berpindah dari satu liputan ke liputan lain, dari satu deadline ke deadline berikutnya, sambil membayangkan bunyi token listrik yang menghiasi pagi sebelum berangkat kerja. Ada redaksi kecil yang bertahan dengan sumber daya terbatas, namun tetap berusaha menjaga akurasi dan etika di tengah ramainya dunia digital dalam era post-truth.

Pers sering ditempatkan sebagai pilar demokrasi dan penjaga nalar publik. Namun pembicaraan tentang ekonomi berdaulat kerap berhenti di tataran wacana. Dalam praktiknya, penghasilan yang tidak menentu, beban kerja yang tinggi, serta tuntutan produktivitas di era media siber masih menjadi keseharian insan pers.

Pers yang sehat berkaitan erat dengan keberlanjutan hidup orang-orang di dalam ruang redaksi. Ketika kesejahteraan belum menjadi pijakan, independensi menjadi rapuh dan idealisme terus diuji oleh kondisi ekonomi. Ruang untuk bekerja dengan tenang semakin sempit ketika ketidakpastian menjadi hal yang biasa.

Kenyataan tersebut tampak jelas dalam praktik sehari-hari. Undangan liputan datang, ajakan menjadi media partner disampaikan, nama media dicantumkan, logo dipajang, dan eksposur dijanjikan. Namun sering kali, kerja jurnalistik yang dilakukan tidak disertai kejelasan penghargaan. Menulis, meliput, memeriksa data, dan menyajikan informasi secara bertanggung jawab kerap dianggap sebagai sesuatu yang wajar untuk dilakukan tanpa bayaran.

Padahal, menulis adalah keterampilan profesional. Ia lahir dari pengalaman, pengetahuan, dan tanggung jawab etik. Ketika kerja ini terus-menerus dinormalisasi tanpa penghargaan yang layak, kelelahan tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga oleh pikiran.

Belum lagi menghadapi homeless media yang seringkali dengan enaknya comat-comot sana-sini hasil kerja-kerja pers di lapangan. Alih-alih mengajak kerja sama, insan pers tak jarang hanya mendiamkan saja. Padahal, tak sedikit dari para pelaku homeless media itu yang meraup cuan tak sedikit.

Refleksi kemudian perlu diarahkan ke dalam. Insan pers dan pelaku bisnis media ikut membentuk kondisi ini. Penerimaan terhadap kerja tanpa nilai, pembiaran terhadap batas yang kabur, serta kebiasaan menyebut semua kerja sebagai kolaborasi perlahan melahirkan budaya gratisan. Ketegasan dalam menghargai diri sendiri sering kalah oleh kebutuhan untuk tetap berjalan.

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan terhadap jurnalis media siber saat studi S-2 beberapa waktu lalu, persoalan kesejahteraan sulit diselesaikan jika dikerjakan sendiri-sendiri. Pola kerja yang terpecah membuat insan pers semakin rentan terhadap tekanan ekonomi dan ketidakpastian penghasilan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kerja bersama melalui Joint-Operation Model berbasis kinerja membantu meningkatkan efisiensi dan membuka peluang peningkatan kemampuan serta kesejahteraan, terutama ketika produktivitas media dikelola dengan lebih rapi.

Temuan ini menegaskan bahwa pers perlu bergerak bersama. Di era digital, berserikat dan membangun kerja sama menjadi kebutuhan. Kolaborasi tidak hanya soal berbagi liputan, tetapi juga tentang strategi usaha, cara menyebarkan konten, dan memperkuat posisi tawar media. Kesadaran terhadap pentingnya media sosial juga menjadi bagian penting dari upaya ini, karena platform digital telah menjadi ruang penting dalam memperluas jangkauan dan membuka peluang nilai ekonomi.

Keresahan serupa juga disampaikan oleh Guntur Syahputra Saragih, Anggota Komite Publisher Rights atau Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas beberapa waktu lalu. Ia melihat ada kejanggalan dalam cara industri media merespons tekanan yang berlangsung perlahan.

“Kalau di industri lain sudah ada market leader layoff, itu alarm. Tapi di media, semuanya diam saja,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya respons bersama di dalam industri. Saat tekanan ekonomi terus berjalan, suara dari dalam ekosistem media belum terdengar kuat. Harapan sering diarahkan sepenuhnya kepada negara, sementara keberanian untuk bersuara dari para pekerja media sendiri masih terbatas.

“Jangan hanya berharap inisiatif negara, tapi pekerja media harus berani bersuara,” katanya.

Soal pajak juga menjadi perhatian. Guntur menilai kebijakan pembebasan pajak belum menyentuh para pekerja media, padahal sebagian besar wartawan memiliki penghasilan di bawah Rp10 juta, bahkan di bawah upah minimum kota/kabupaten.

“Kenapa mereka yang penghasilannya rendah tidak mendapatkan insentif pajak? Ini perlu diperhatikan,” tuturnya.

Ia mendorong adanya diskusi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian agar kebijakan yang disusun benar-benar berpihak pada pekerja media.

“Komunitas pers harus terlibat aktif agar rumusan kebijakan benar-benar membela pekerja media dan menjamin keberlanjutan jurnalisme berkualitas,” ungkapnya.

Berbagai refleksi, hasil penelitian, dan suara kebijakan tersebut memperlihatkan satu benang merah. Ekonomi pers sulit berdaulat ketika insan pers terus berjalan sendiri-sendiri dan membiarkan kerja profesional dianggap wajar tanpa nilai. Kekuatan pers tumbuh dari kebersamaan, keberanian bersuara, dan kesadaran untuk saling menghargai.

Hari Pers Nasional layak menjadi momen untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur. Apakah pers akan terus bertahan dengan pola lama yang melelahkan, atau mulai membangun cara kerja yang lebih adil dan berdaya?

Selamat Hari Pers Nasional. Pers yang kuat lahir ketika martabat dijaga, kesejahteraan diperjuangkan, dan kebersamaan benar-benar dirawat.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi AboutMalang.com

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!