Highlight

Jadi Saksi Sejarah, SMSI dan Pemkot Cilegon Resmikan Monumen Siber Indonesia

oplus 16908288

CILEGON | INTIJATIM.ID – Kota Cilegon, Provinsi Banten, mempertegas posisinya dalam peta sejarah komunikasi digital tanah air. Melalui peresmian Monumen Siber Indonesia, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menandai sebuah era baru transformasi komunikasi nasional yang berpijak pada nilai historis.

​Acara yang berlangsung pada Sabtu (7/2/2026) ini dihadiri langsung oleh Ketua SMSI Pusat, Firdaus, serta pimpinan tertinggi Kota Cilegon: Wali Kota Robinsar dan Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo. Kehadiran tokoh masyarakat seperti mantan Wali Kota Iman Ariyadi dan perwakilan Dewan Pers, Yogi, menambah bobot urgensi acara tersebut.

​Ketua SMSI Pusat, Firdaus, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemilihan Cilegon sebagai lokasi monumen bukanlah tanpa alasan. Ia mengenang kembali momen krusial pada tahun 2017 saat SMSI pertama kali dideklarasikan di kota industri ini.

​”SMSI lahir di Cilegon pada 2017. Ini bukan kebetulan, melainkan sejarah. Monumen Siber Indonesia ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol nilai perjuangan, warisan sejarah, dan kekuatan transformasi komunikasi nasional,” ujar Firdaus.

​Saat ini, SMSI telah bertransformasi menjadi organisasi pers siber terbesar di Indonesia dengan jaringan yang membentang dari Sabang hingga Merauke, termasuk wilayah Papua. Keberhasilan ekspansi ini, menurut Firdaus, tidak lepas dari fondasi dukungan yang diberikan Pemkot Cilegon sejak awal berdiri,” ungkapnya.

​Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyatakan bahwa monumen ini adalah bentuk pengakuan sejarah sekaligus komitmen pemerintah daerah terhadap kebebasan pers yang bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus informasi digital, ia memandang pers siber sebagai mitra kritis sekaligus strategis.

​”Pemerintah daerah harus adaptif. Monumen ini menjadi pengingat bahwa pers siber harus tetap menjunjung etika, profesionalisme, dan kepentingan publik,” tegas Robinsar.

​Ia juga menambahkan bahwa Cilegon, yang selama ini dikenal sebagai kota industri dan kota kerja, kini juga harus dikenal sebagai “Kota Gagasan”. “Dari kota inilah, narasi-narasi konstruktif diharapkan terus lahir untuk mengimbangi disrupsi informasi di tingkat nasional,” jelasnya.

​Meski seremoni ini dipenuhi dengan apresiasi, pesan inti yang disampaikan kedua belah pihak tetap tertuju pada kualitas konten. Penekanan pada “pers yang sehat dan bermartabat” menjadi garis bawah yang tebal. Keberadaan monumen ini menjadi tantangan bagi insan pers di Cilegon dan Indonesia untuk tidak hanya cepat dalam menyajikan berita, tetapi juga akurat dan berimbang sesuai kode etik jurnalistik. (OP/IJ)

Source: siberindo

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!