Highlight

Petaka di Balik Arus Kedungprahu, Bocah 12 Tahun Tewas Tenggelam

point blur feb152026 143207

NGAWI | INTIJATIM.ID – Suasana akhir pekan di Dusun Kedungprahu, Desa Widodaren, seketika berubah menjadi duka mendalam pada Sabtu (14/2/2026) siang. Seorang bocah berinisial AMP (12 tahun) ditemukan tak bernyawa setelah terseret arus deras sungai setempat saat sedang mandi bersama teman-temannya.

​Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua akan bahaya laten aktivitas anak di luar rumah tanpa pengawasan ketat.

​Peristiwa bermula sekitar pukul 14.30 WIB. Korban awalnya berpamitan kepada orang tuanya untuk sekadar bermain sepeda bersama tiga rekannya. Namun, rencana tersebut berubah di tengah jalan, mereka memutuskan untuk mandi di sungai yang lokasinya tak jauh dari permukiman.

​Nahas, kegembiraan itu berubah menjadi kepanikan saat AMP, yang diketahui tak memiliki kemampuan berenang, terseret arus sungai yang sedang mengalir deras.

​”Korban sempat berteriak minta tolong. Teman-temannya mencoba membantu, namun arus yang kuat dan kedalaman air yang mencapai lebih dari lima meter membuat upaya mereka gagal,” ungkap Kapolsek Widodaren, AKP Farid Suharta, Minggu (15/2/2026).

​Salah satu rekan korban segera berlari mencari bantuan warga. Respons cepat perangkat desa dan relawan membuat proses pencarian hanya memakan waktu 15 menit. Tubuh korban ditemukan hanya berjarak tiga meter dari lokasi awal ia tenggelam.

​Meski sempat diberikan upaya pertolongan pertama setelah dievakuasi, nyawa bocah tersebut tidak tertolong. Sementara, hasil visum luar mengonfirmasi bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan dan AMP murni meninggal dunia akibat tenggelam.

​Kasus ini menambah daftar panjang kecelakaan air yang melibatkan anak-anak di wilayah pedesaan. Kedalaman sungai yang mencapai lima meter seharusnya menjadi alarm bagi warga sekitar, terutama saat musim tertentu di mana arus sulit diprediksi.

​AKP Farid Suharta secara tegas mengingatkan masyarakat bahwa izin “bermain sepeda” seringkali menjadi celah bagi anak-anak untuk mengeksplorasi tempat berisiko tanpa sepengetahuan orang tua.

​Kini, jenazah korban telah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. Namun, duka di Widodaren ini meninggalkan pesan kuat, pengawasan orang tua bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan keselamatan nyawa. (Mei/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!