Highlight

Dari Kuli Bangunan hingga Pengusaha Paving Block, Kisah Perjuangan Amar Warga Ngawi

oplus 16908288

NGAWI | INTIJATIM.ID – Ungkapan semakin kaya seseorang, semakin sederhana penampilannya, tampaknya tepat menggambarkan sosok Amar Sunaryo (59), pengusaha paving block yang kini cukup mapan di Kabupaten Ngawi.

Saat ditemui di lokasi usahanya di Desa Dumplengan, Kecamatan Pitu, Senin (26/1/2026), Amar datang mengendarai sepeda motor Vario. Ia mengenakan kaos lengan panjang bermotif garis, celana kain berwarna kalem, tanpa jam tangan mahal ataupun ponsel premium. Hanya tas selempang merek Eiger warna cokelat yang menemaninya. Penampilannya sederhana, jauh dari kesan pengusaha besar.

Kesederhanaan itu, menurut Amar, bukan tanpa alasan. Ia tak ingin ada sekat antara dirinya dan orang lain.

“Saya lebih nyaman begini. Bisa ngopi di warung setiap hari dengan petani. Kadang malah dianggap mandor anak saya, tapi nggak masalah,” ujarnya sambil tersenyum.

Jatuh Bangun Usaha

Perjalanan Amar hingga memiliki usaha paving block bukanlah perkara mudah. Sebelum terjun ke dunia konstruksi, ia sempat mencoba berbagai usaha, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan tebu.

Pada tiga tahun pertama, usaha tebu sempat menjanjikan. Bahkan, usahanya merambah hingga ke Blora dan Bojonegoro dengan modal pinjaman bank dan dana dari pabrik. Namun, pada tahun keempat semuanya runtuh.

“Kolaps, hancur semuanya. Rugi miliaran rupiah, hutang saya banyak,” kenangnya.

Mencoba bangkit lewat usaha perikanan, nasib tak juga berpihak. Ikan sudah diambil pengepul, namun pembayaran tak kunjung diterima hingga sang pengepul meninggal dunia. Tak hanya itu usaha sapi pun rugi karena harga yang semakin merosot, akhirnya memilih menjual dengan harga murah.

Di titik terberat, Amar sempat berniat menjual aset dan pindah ke Sumatra. Namun, istri dan anak-anaknya menolak keras rencana tersebut.

Latar Belakang Sederhana

Kehidupan sederhana Amar berakar dari latar belakang keluarganya. Ayahnya bekerja sebagai pesuruh sekolah, sementara ibunya ibu rumah tangga. Ia adalah anak dari lima bersaudara dalam keluarga yang serba kekurangan.

Sejak SD hingga SMP, biaya pendidikannya dibantu orang lain. Usai lulus SMP, Amar sempat bersekolah di SMA Muhammadiyah, namun hanya bertahan satu tahun sebelum pindah ke STM. Demi membiayai sekolah, ia bekerja paruh waktu di koperasi simpan pinjam sejak 1983.

“Berangkat jam lima pagi, pulang jam lima sore. Kalau mau kerja harus naik perahu dulu karena belum ada jembatan, habis itu ngontel sepeda,” tuturnya.

Dari Kuli hingga Asisten Pelaksan

Setelah lulus STM, Amar sempat mendapat tawaran menjadi pimpinan cabang koperasi, namun ia memilih mengundurkan diri karena merasa tak tega pada nasabah. Ia lalu merantau, bekerja di usaha mebel di Maluku hingga Cepu.

Sekembalinya ke Ngawi, Amar bekerja sebagai kuli bangunan, khususnya tukang cat dan pelitur. Kerja kerasnya membuat ia dipercaya menjadi asisten pelaksana proyek konstruksi pada 1991.

“Namanya aspel kelihatan keren, tapi kerjaannya disuruh beli paku dan semen,” katanya sambil tertawa.

Ia menggarap proyek saluran irigasi di Geneng, Ngawi, dengan sepeda ontel karena lokasi proyek berada di tengah sawah. Kesuksesan itu membawanya dipercaya mengerjakan proyek di Pacitan sebagai koordinator pelaksana. Fasilitas yang diterima pun sederhana, sebuah sepeda motor Yamaha L2 Super dengan tangki bocor.

“Kalau nggak ditutup pakai sabun, bensinnya cepat habis,” kenangnya.

Bangkrut, Jadi Tukang Ojek, hingga Titik Balik

Setelah tujuh tahun bekerja, perusahaan tempatnya bernaung bangkrut. Amar hanya diberi sepeda motor Honda Win sebagai kenang-kenangan. Ia lalu menjadi tukang ojek, namun penghasilan tak mencukupi hingga motornya terpaksa dijual.

Pernah menganggur, Amar kembali bekerja di perusahaan konstruksi di Maospati dan Madiun. Salah satu pengalaman pahitnya adalah saat mengerjakan proyek senilai Rp42 juta, namun uang Rp5 juta dibawa kabur mandor. Dari pengalaman itu, Amar akhirnya ditawari membeli perusahaan lama yang bangkrut seharga Rp65 juta. Perusahaan itu kini dikenal sebagai CV Yuana Karya, yang menjadi titik balik hidupnya.

Bangkit Lewat Paving Block

Amar aktif di Gapensi Kabupaten Ngawi selama 10 tahun, bahkan menjabat ketua periode 2010–2020. Namun, ujian terberat datang pada 2016 ketika hutangnya itu masih tersisa Rp800 juta akibat bisnis tebu.

Keinginannya membuka usaha paving block sempat ditolak bank. “Hutang saya masih banyak, jadi nggak di-ACC. Ya sudah, modal nekat,” katanya.

Keberuntungan datang saat seorang teman memesan paving block dan memberikan modal Rp200 juta. Pesanan itu sukses dan berlanjut dengan uang muka Rp500 juta karena kualitas produksi memuaskan.

Dalam dua tahun, Amar berhasil melunasi seluruh hutangnya dari hasil usaha paving block. Sejak 2018, ia memilih tak lagi berurusan dengan bank. “21 tahun hidup saya dengan cicilan bank. Waktu usaha jatuh, bank nggak percaya lagi,” ujarnya.

Tetap Sederhana dan Menjauhi Politik

Kini, usaha paving block Amar berkembang pesat. Meski hidup berkecukupan, gaya hidupnya tetap sederhana. Ia juga menolak terjun ke dunia politik meski kerap mendapat tawaran dari sejumlah partai.

“Saya nggak mau benturan dengan teman-teman. Semua dapil di sini teman saya. Saya sudah nyaman dengan apa yang saya miliki sekarang,” pungkasnya. (Mei/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!