Highlight

Medan Curam Penanganan Karhutla: Pemprov Jatim Pakai Metode Sekat Bakar Jinakkan Kebakaran Pegunungan

oplus 16908288

SURABAYA | INTIJATIM.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menggerogoti kawasan pegunungan dan perbukitan di Jawa Timur. Menghadapi topografi medan yang curam dan mustahil dijangkau jalur darat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini menggantungkan harapannya pada strategi pembuatan sekat bakar demi melokalisasi pergerakan si jago merah.

​Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa sulitnya akses geografis menjadi tembok penghalang utama tim gabungan di lapangan.

​“Kata kuncinya adalah patroli. Ada lokasi kebakaran yang bisa dijangkau dan ada yang tidak bisa dijangkau. Yang tidak bisa dijangkau, fokus kita adalah antisipasi dengan membuat sekat bakar agar api tidak melebar ke pemukiman warga maupun memperluas area kebakaran,” kata Emil usai rapat paripurna di DPRD Jatim, Surabaya, Senin (19/10).

​Berdasarkan data pemantauan, karhutla telah mengepung sedikitnya lima hingga tujuh kawasan pegunungan vital. Wilayah terdampak meliputi Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) / Gunung Bromo, Gunung Arjuno, ​Gunung, Ringgit Situbondo, ​Gunung Argopuro, Pusung Lingker, dan Probolinggo.

​BMKG Juanda mengonfirmasi lima daerah berstatus kewaspadaan tinggi, yakni Probolinggo, Mojokerto, Bondowoso, Jember, dan Pasuruan.

​Pemetaan titik api sejak Agustus 2026 menunjukkan ketimpangan distribusi area terbakar. Sebanyak 79 persen titik api berada di kawasan konservasi, 14 persen di wilayah Perum Perhutani, dan 7 persen di Tahura Raden Soerjo yang berada di bawah kewenangan langsung Pemprov Jatim.

​Di tengah ganasnya medan curam, penanganan darat memikul beban berat akibat keterbatasan armada water bombing. Emil mengakui alokasi armada pemadaman udara nasional saat ini masih diprioritaskan untuk penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera.

“Pemprov Jatim juga terus berkoordinasi intensif dengan BNPB agar akses bantuan udara bisa dikucurkan jika kondisi makin memburuk,” ungkapnya.

​Guna menahan laju api, sebanyak 53 anggota Manggala Agni Dinas Kehutanan Jatim disiagakan bersama Polisi Hutan (Polhut) serta relawan terlatih. Namun, pertempuran memadamkan api di medan ekstrem ini telah memakan anggaran yang sangat mahal.

​Insiden karhutla di kawasan TNBTS dan Probolinggo sebelumnya telah menelan empat korban jiwa dari unsur petugas serta menyebabkan beberapa lainnya luka parah.

​“Kombinasi antara Polisi Hutan, Manggala Agni, dan relawan terlatih bahu-membahu melakukan pemadaman serta penyekatan. Namun, saya tegaskan kata kuncinya: keselamatan petugas adalah prioritas nomor satu, tidak boleh ada petugas yang menjadi korban,” tegas Wagub Jawa Timur.

​Hingga saat ini, dampak tragedi tersebut masih dirasakan. Dua orang petugas yang mengalami luka bakar serius masih berjuang melewati masa kritis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya.

​“Dua korban kondisinya masih sangat kritis di RSUD Dr. Soetomo. Setiap hari kami terus memantau update perkembangan medisnya karena luka bakarnya cukup serius. Pemantauan dan perawatan intensif di ICU terus dilakukan oleh tim dokter, mari kita doakan yang terbaik untuk kesembuhan mereka,” pungkas Emil. (Rwy/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!