Highlight

Liburan ke Belanda : Ke Leiden (Jilid 6)

Liburan ke Belanda : Ke Leiden (Jilid 6)

Oleh: Suprawoto

Kota Leiden tidak bisa dipisahkan dari para bapak bangsa yang terpelajar yang dulu banyak menimba ilmu di kota ini. Dan tak mengherankan bila kota Leiden juga tidak bisa dipisahkan dengan Universitas Leiden. Dan memang universitas Leiden merupakan universitas tertua di Belanda. Bayangkan universitas ini didirikan pada tahun 1575 sebagai hadiah atas pertahanan heroik rakyat Leiden dari serangan Spanyol.

Pada saat perang melawan Spanyol di bawah pimpinan Raja Philip II pada tahun 1574 mengepung kota Leiden berbulan-bulan. Akibat yang terjadi, rakyat yang berada di kota Leiden kelaparan hebat dan wabah penyakit. Namun rakyat tidak mau menyerah kepada Spanyol. Untuk mengusir pasukan Spanyol rakyat kemudian mengunakan taktik menjebol tanggul-tanggul air sehingga terjadi air bah yang menyebabkan pasukan Spanyol terpaksa mundur.

Atas jasa rakyat Leiden kemudian Raja William van Oranje menanyakan kepada rakyatnya meminta hadiah apa kepada raja. Yang sangat mengherankan, yang diminta bukan hadiah uang maupun bentuk harta benda lainnya. Yang diminta agar di Leiden didirikan sebuah univeritas. Oleh sebab itulah pada tahun 1575 setelah pasukan Spanyol mundur didirikan Universitas Laiden.

Itulah visi permintaan rakyat yang cerdas yang dilakukan rakyat Leiden kepada rajanya. Bayangkan pada tahun tersebut Indonesia masih pada masa Kerajaan Pajang. Mataram Islam pun belum berdiri. Tetapi rakyat Leiden lebih memilih untuk berdirinya universitas di wilayahnya sebagai hadiahnya. Tak mengherankan kalau kemudian Universitas Leiden merupakan univesitas tertua di Belanda.

Dan di Universitas Leiden sampai sekarang terkenal dengan program studi ilmu sosial dan humaniuranya. Sebagai universitas terkenal di Belanda bahkan juga terkemuka di Eropa maka tak mengherankan bila banyak tokoh-tokoh terpelajar bangs akita alumni Universitas Leiden. Mulai Sosrokartono, Husein Djajadiningrat, Mr. Sunario, Mr. Soepomo, Mr. Achmad Soebardjo, HB IX dan tokoh lainnya dulu juga kuliah di Leiden. Apalagi di Universitas Leiden selain jurusan hukum juga dulu ada jurusan Indologi di mana banyak mahasiswa dari Hindia Belanda yang mengambil jurusan ini.

Sosrokartono Vs Snouck Hurgronje 

Kakak tertua banyak menginspirasi adik-adiknya. Demikian juga Sosrokartono muda ketika itu yang lahir dari ayah seorang bupati yang berpikiran maju. Pada saat itu Sosrokartono merupakan mahasiswa pertama dari bumiputra yang kuliah di Leiden. Sebagai putra Bupati Jepara, maka sangat memungkinkan Sosrokartono mendapatkan pendidikan yang sangat baik.

Dan RA Kartini juga beruntung. Selain lahir dari orang tua yang memiliki jabatan tinggi di masanya, tetapi ayahnya juga berpikiran maju. Lingkungan itulah yang memungkinkan Sosrokartono kemudian bisa merealisasikan cita-citanya sebagai orang pertama bumiputra yang bisa kuliah di Leiden. Sebuah pendidikan tinggi terkemuka di Eropa bahkan di dunia.

Tak mengherankan bila majunya pendidikan Sosrokartono tersebut kemudian juga sangat menginspirasi RA Kartini serta adik-adiknya. Namun sayang RA Kartini harus berhadapan dengan kondisi kultural bangsanya yang saat itu masih menempatkan perempuan sebagai “kanca wingking.” Itulah RA Kartini, walaupun fisiknya dibelenggu oleh kondisi kultural bangsanya tetapi tidak dengan pikiran dan gagasannya. Cita-cita, ide-ide serta pemikirannya dituangkan dalam surat-suratnya yang dikirim kepada koleganya di Belanda yang kemudian dibukukan dalam buku yang diberi judul “Door duisternis tot licht” yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Namun sayang setelah lulus pada tingkat sarjana, kemudian meneruskan pada program doktor menemui . Mendapat bimbingan Prof Snouck Hurgronje justru menjadi batu sandungan bagi Sosrokartono. Betapa tidak, karena perbedaan pandangan tidak hanya akademik tetapi juga terkait idiologis. Sebagai pribumi yang terpelajar dan menyadari kondisi bangsanya maka ucapan Sosrokartono diberbagai kesempatan dianggap sangat menyinggung Snouck Hurgronje. Sampai pada suatu kesempatan sampai Snouck Hurgronje sampai mengatakan yang pada intinya, kalau Snouck Hurgronje masih berada di Universitas Leiden tidak akan mungkin Sosrokartono akan bisa mencapai gelar doktor.

Sedang pandangan dari Belanda, kegagalan Sosrokartono mencapai gelar doktor di Universitas Leiden karena sikapnya sendiri yang saat itu menemui banyak masalah terkait gaya hidup. Sebagaimana diketahui, Sosrokartono waktu kuliah di Leiden bertempat tinggal di jalan dan wilayah elite Leiden. Tempat tinggalnya saja di depan Balai Kota Leiden. Selain itu Sosrokartono ketika kuliah di Leiden bergabung di organisasi Minerva yang saat itu dipandang sebagai organisasi elite yang anggotanya kaum terpandang dan mengharuskan anggotanya harus membayar iuran yang cukup mahal (Sultan HB IX) dulu juga aktif di organisasi Minerva ini.

Akibat dari terbawa gaya hidup ini, kemudian Sosrokartono kesulitan keuangan ketika menyelesaikan program doktornya. Namun yang jelas, setelah Sosrokartono gagal menyelesaikan program doktornya kemudian dengan kemampuan poliglotmya (mampu menguasai beberapa bahasa) kemudian menjadi wartawan perang untuk koran Amerika Serikat. Setalah perang dunia pertama berakhir Sosrokartono kemudian menjadi juru bahasa Liga Bangsa-bangsa sebalum menjelma menjadi PBB.

Centre Excellence Universitas Leiden 

Tak bisa dipungkiri Universitas Leiden sangat unggul di bidang hukum dan humaniura. Tak mengherankan bila mahasiswa Indonesia sejak jaman Hindia Belanda sampai dengan sekarang bila akan mengambil program master dan doktor bidang hukum dan humaniura banyak yang kuliah di Leiden. Tidak hanya mahasiswa Indonesia yang banyak belajar di Leiden tetapi juga dari berbagai negara Asia, Afrika dan Amerika Latin banyak yang belajar di Leiden.

Dan memang kuat sumber-sumber informasi di perpustakaan Leiden. Apalagi terkait dengan Indonesia, amat sangat lengkap. Bagaimana tidak ratusan tahun Belanda menjajah Indonesia. Wajar kalau mulai dari artefak, prasasti, manuskrip maupun catatan lainnya terkumpul di Belanda. Berbagai museum dan perpustakaan utamanya perpustakaan Universitas Leiden menyimpan segala informasi tentang Indonesia.

Wajar kalau kemudian para ahli tentang Indonesia justru banyak di Universitas Leiden karena sumber infomasinya berada di Belanda. Kadang-kadang saya juga heran, mengapa ahli tentang Indonesia justru orang asing baik tetang politik dan sejarah. Banyak doktor dan guru besar di Indonesia berbagai bidang seperti politik, sejarah dulu adalah bimbingan para ahli Indonesia bangsa asing.

Kalau ahli politik banyak alumni dari berbagai perguruan tinggi top dari USA dan Australia. Sedang untuk hukum dan sejarah, banyak alumni dari universitas di Belanda khususnya Leiden. Dan Universitas Leiden telah begitu banyak menghasilkan baik sarjana maupun doktor dari Indonesia. Bahkan ahli sejarah Indonesia khususnya Perang Jawa adalah orang asing Prof Peter Carey yang disertasinya tentang P. Diponegoro (Perang Jawa) setebal 3 jilid buku yang sekarang menjadi guru besar luar biasa di Jurusan sejarah UI. Risetnya salah satunya juga di Perpustakaan Universitas Leiden.

Doktor pertama dari Indonesia alumni Universitas Leiden adalah Dr. Husein Djajadiningrat. Dan Dr Husein Djajadiningrat merupakan pria kelahiran Serang Banten tahun 1886 dari keluarga bangsawan. Yang bersangkutan bisa meneruskan mengambil gelar doktor di Leiden karena atas bantuan dan jasa baik dari Snouck Hurgronje. Memang berbeda perlakukan Snouck Hurgronje terhadap Husein Djajadiningrat dan Sosrokartono. Dan karena perbedaan perlekukan tersebut pada bimbingannya, akhirnya Husein Djajadiningrat yang kemudian bisa menyelesaikan doktornya sedang Sosrokartono harus mencari rute jalan yang lain.

Bertemu Peserta Postdoc di Universitas Leiden 

Pada awal Oktober 2026 begitu sampai di Belanda saya sudah diberitahu anak saya tentang agenda saya selama lebih dari sebulan. Tahu kalau saya pasti senang kalau diajak ke Universitas Leiden, maka ke Leiden termasuk salah satu agenda yang harus saya kunjungi. Selain itu saya juga sudah beberapa kali Belanda dan banyak tempat wisata populer yang sudah saya kunjungi, maka agenda kali ini memang agak dibuat lain. Dan kebetulan anak saya juga aktif di komunitas warga Indonesia di Belanda, jadi aksesnya cukup banyak. Salah satunya kenal dengan peserta postdoc di Universitas Leiden sehingga bisa membantu saya untuk bisa masuk di Perpustakaan Universitas Leiden.

Postdoc (peneliti pascadoktoral) merupakan posisi kerja di bidang riset setelah memperoleh gelar PhD. Kalau di Indonesia program doktor biasanya membayar dan kuliah, kalau di kebanyakan negara maju seperti Belanda program doktor kebanyakan bekerja menjadi asisten riset pada penelitian topik tertentu. Sama sekali tidak membayar malahan sebaliknya dibayar.

Sedang program postdoc, biasanya seorang yang telah menyandang gelar PhD kemudian mengajukan proposal penelitian di lembaga penelitian seperti Universitas Leiden kalau disetujui akan dikontrak biasanya 2-3 tahun. Dan kebetulan ada peserta postdoc alumni S1 dan S2-nya dari Unair Surabaya. Kemudian melanjutkan program PhD di Universitas Leiden mengambil program studi sejarah. Setelah lulus kemudian sebagai peserta Postdoc selama tiga tahun dan keluarga serta kedua anaknya dibawa.

Peserta postdoc tersebut adalah Mas Adrian Perkasa, PhD yang saat ini menetap sementara di Leiden. Setelah melalui penyesuaian jadual, akhirnya pada hari Jumat tanggal 30 Oktober 2026 anak saya janjian ketemu di Leiden. Dan kemudian saya dijemput di stasiun Central Leiden. Dari stasiun Leiden itulah kemudian saya diajak jalan-jalan ke obyek-obyek penting. Karena kota Leiden juga tidak terlalu besar maka kami bersama-sama jalan kaki ke obyek yang akan dituju pada hari itu.

Setelah bertemu muka, ternyata kami semua sebenarnya bukan lagi baru saling mengenal. Ternyata istri dan adiknya mas Adrian adalah murid istri saya ketika istri saya masih sebagai guru SMPN 6 dan kemudian menjadi Kepala Sekolah SMPN 1 Surabaya. Demikian juga mas Adrian juga sudah tahu kami semua sebelumnya. Istri mas Adrian adalah dokter gigi spesialis alumni Unair dan adiknya dokter alumni Unair dan mendapat master biomedik di Belanda dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan obat terkemuka di Belanda.

Setelah bertemu langsung saja menjadi cair. Tentu saja setelah mengetahui latar belakang masing-masing. Cerita ke sana ke mari sambil diselingi tertawa ngakak. Mengenang peristiwa lama kadang-kadang masalah sepele sampai kenakalan murid saat itu membuat kami semua ketawa. Perjalanan ke Universitas Leiden menjadi tidak terasa.

Dalam perjalanan mampir dulu di Wereldmuseum yang kebetulan sedang berlangsung Pameran Tijd voor Papoea atau Time for Papua. Sekitar 400 benda hasil budaya Papua dipamerkan. Pameran dibuka tanggal 13 Februari 2026 sampai 3 January 2027. Hampir satu tahun pameran dilaksanakan. Ada sekitar 400 item benda-benda seni dipamerrkan membuat kita ikut bangga hasil karya budaya anak bangsa dirawat dan dipamerkan di negeri yang jauh di seberang.

Puas melihat pameran perjalanan dilanjutkan sampai di patung pelukis ternama Belanda Rembrant van Rijn (lahir di Leiden 1606-1669) kami berhenti sebentar. Di lokasi patung di dekat kincir angin Molen de Put ini saya memandang kanal yang dipenuhi perahu yang digunakan untuk tempat tinggal dijajar secara teratur dan rapi. Inilah Belanda, negeri kincir angin dan negeri yang dipenuhi dengan kanal tetapi semua dipelihara dengan baik. Semua kanal justru menambah keindahan kota maupun perdesaan di Belanda.

Patung yang menghadap kanal sekaligus menghadap rumah masa kecil Rembrant diseberang kanal tersebut terasa sangat bermakna. Bagi pecinta lukisan nama Rembrant tidak asing lagi. Lukisan yang sangat terkenal seperti The Night Watch (Nachtwacht), Anatomy Lesson of Dr. Nicolaes Tulp selalu menjadi perhatian di museum lukisan di Belanda. Menkmati lukisan di museum Belanda terasa mat aini seperti dimanjakan. Lukisan karya pelukis ternama tahun 1600-an itu sangat terawatt dan sangat indah bagi saya seorang awam tentang lukisan.

Setelah mampir di halaman rumah masa kecil Rembrant, perjalanan dilanjutkan ke Universitas Leiden. Langsung kita menuju ke Perpustakaan Universitas Leiden. Selama ini saya hanya lewat saja di depan, dan juga sering akses lewat internet namun berkat mas Adrian saya bisa masuk ke dalam. Tentu saja bagi saya yang sangat mencitai buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan merupakan kebahagiaan tersendiri.

Kesempatan Mengunjungi Universitas Leiden 

Di lantai bawah perpustakaan saya dikenalkan dengan Katja Paijjens, PhD kolega mas Adrian yang menyelesaikan PhD-nya terkait dengan Sultan Hamid II Pontianak. Dan kemudian saya diajak masuk ke perpustakaan. Tentu saja saya dibawa ke buku-buku terkait dengan Indonesia yang bisa diakses langsung. Namun ada beberapa buku atau naskah lainnya tentang Indonesia yang bisa diakses secara khusus.

Kalau suatu saat saya balik lagi, tentu saja saya ingin mengakses koleksi di Perpustakaan Universitas Leiden. Ada beberapa cara mengakses bila bukan mahasiswa Universitas Leiden. Bisa menjadi anggota sementara sebulan misalnya dengan membayar iuran sejumlah uang tertentu. Betul saya berjanji dalam hati, suatu saat saya ke Belanda lagi akan menjadi anggota sementara agar bisa mengakses buku. Oleh sebab itu saya akan mencoba memetakan buku-buku apa saja yang tidak saya miliki, atau setelah saya cari di perpustakaan Indonesia tidak ada tetapi saya butuhkan kemudian akan saya cari di Universitas Leiden.

Melihat perpustakaan di Universitas Leiden rasanya ingin sekolah lagi heeeee. Baru sadar saat ini kalau saya sudah umur. Tetapi bagi saya sebenarnya belajar tidak menghitung umur. Setidaknya terus berkarya dan juga berbuat baik untuk negeri saya sesuai kemampuan saya. Perpustakaan yang menyimpan begitu banyak informasi tentang Indonesia sangat memanjakan yang cinta ilmu pengetahuan. Tempatnya tenang, dan nuansa akademik betul-betul sangat terasa.

Selesai mengunjungi perpustakaan kemudian saya diajak mengelilingi kampus. Berbeda dengan kampus-kampus lainnya di Belanda seperti TU Delf yang begitu luas dan gedung tinggi, kampus Leiden tidak. Jusru didominasi oleh gedung-gedung tua dan letaknya memang berada di tengah kota Leiden. Kampus universitas tertua di Belanda ini tentu telah begitu banyak menelorkan para ilmuwan kelas dunia. Bahkan banyak alumninya yang mendapat hadiah Nobel.

Sampai kemudian di gedung Academiegebouw atau Academy Building di mana mahasiswa program doktor mempertahankan disertasinya di depan dewan penguji. Di gedung tersebut berdiri patung-patung serta juga dipajang foto-foto. Dan yang sangat membanggakan berdiri patung penerima gelar doktor pertama dari Universitas Leiden dari Indonesia yaitu Husein Djajadiningrat. Dan secara kebetulan saat saya mengunjungi gedung tersebut sedang berlangsung ujian disertasi, sehingga banyak tamu yang hadir.

Cara Rekrutmen Dosen Yang Membuat Perguruan Tinggi Maju 

Mengapa universitas di negeri Belanda dan negara maju lainnya sangat maju? Tentu banyak faktor yang sangat berpengaruh. Salah satunya cara rekrutmen dosen dan penelitinya yang sangat jauh berbeda dengan kita. Peneliti di universitas riset Belanda yang jumlahnya hanya sekitar dua belas namun semuanya top tersebut umumnya dalam rekrutmen peneliti dan dosen sangat ketat. Catatan akademik menjadi tolok ukur yang utama.

Hal ini bisa dilihat atau contoh kasus menantu saya yang saat ini menjadi asisten professor di Faculty of Aerospace Engineering TU Delf. Pada waktu lulus dari VU University Amasterdam dengan predikat pujian, berkeinginan menjadi peneliti/dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Belanda. Kemudian rute yang ditempuh tidak langsung melamar ke perguruan tinggi, tetapi memperbanyak portofolio bidang akademiknya. Tentu semakin bagus portofolio akan memudahkan menjadi peneliti/dosen di berbagai universitas ternama.

Oleh sebab itulah, salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan membuat proposal penelitian yang diajukan kepada lembaga-lembaga penelitian bergengsi di dunia, salah satunya di Amerika Serikat (menjadi postdoc). Proposal kemudian diajukan ke lembaga penelitian bergengsi seperti NASA dan Carnegie Institute for Science di Washington DC. Keduanya diterima, namun lebih memilih ke Carnegie yang letaknya di Washington DC. Kontrak selama dua tahun sekaligus mendampingi riset bagi master dan PhD di lembaga tersebut.

Tentu saja selama riset di lembaga tersebut, hasil penelitiannya banyak tersebar di berbagai jurnal yang paling bergengsi di dunia. Dengan banyaknya hasil penelitiannya yang dimuat diberbagai jurnal bergengsi, maka namanya akan semakin dikenal di dunia akademik di bidangnya. Dan tentu saja akan semakin menambah panjang serta nilai dalam portofolionya.

Dua tahun di Carnegie kemudian dilanjutkan mengajukan proposal penelitian ke Munster University Jerman. Dan proposal penelitiannya di universitas ini juga diterima. Dan kemudian menandatangani kontrak selama dua tahun. Selama dua tahun penelitian tentu banyak hasil risetnya dimuat di jurnal bergengsi dunia. Dan tentu saja namanya semakin dikenal di kalangan professor universitas ternama.

Dan betul. Suatu saat menantu saya bertemu dengan salah satu professor dari Faculty of Aerospace Engineering TU Delf. Dalam pertemuan tersebut, menantu saya ditantang kalau seandainya bisa membawa hibah penelitian dari salah satu lembaga Uni Eropa ternama yang besarnya hibah saja tiga juta Euro dan hibah tersebut dibawa ke TU Delft maka akan diangkat sebagai asisten professor. Cara demikian tentu yang masuk menjadi peneliti/dosen di universitas menjadi sangat berkualitas.

Dan dana hibah sebesar hampir tiga juta Euro tersebut berhasil didapat dengan persaingan nilai riset antar ilmuwan dengan sangat ketat. Dan berhasil. Dana hibah yang setara dengan hampir Rp 61 milyar tersebut kemudian dibawa ke TU Delft. Dibelikan alat untuk penelitian, sekaligus biaya penelitian dengan membimbing beberapa PhD dan master dari berbagai negara yang telah lolos seleksi. Dengan keberhasilan memenangkan persaingan mendapatkan dana hibah, tentu akan meningkatkan reputasi universitas sekaligus rekrutmen peneliti/dosen berkualitas menjadi sehat.

Demikian juga yang dilakukan Mas Adrian saat ini yang sedang melakukan Postdoc di Universitas Leiden. Dan mudah-mudahan langkah yang ditempuh mas Adrian sukses sehingga nanti pakar Indonesia bukan lagi dari bangsa asing tetapi pakar Indonesia juga dari bangsa Indonesia sendiri. Semoga!!!! (bersambung).

 

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!