Highlight

Menlu Sugiono Hadiri SMU PBB ke-81: Ujian Diplomasi RI di Tengah Krisis Kepercayaan Global

Menlu Sugiono Hadiri SMU PBB ke-81: Ujian Diplomasi RI di Tengah Krisis Kepercayaan Global

JAKARTA | INTIJATIM.ID – Di bawah naungan tema “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations that Delivers for All”, Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB (SMU PBB) ke-81 resmi dibuka di Markas Besar PBB, New York. Menteri Luar Negeri RI Sugiono hadir memimpin delegasi Indonesia di tengah momentum kritis, dan erosi kepercayaan terhadap multilateralisme dan gelombang krisis global yang kian kompleks.

​Sidang tahun ini dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB ke-81, Khalilur Rahman dari Bangladesh, serta diwarnai momen emosional pidato terakhir António Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB.

​Dalam pidato pamungkasnya, Guterres menyampaikan teguran keras sekaligus refleksi atas lanskap kekuatan dunia yang kian terfragmentasi akibat konflik bermotif geopolitik, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga ancaman disrupsi Artificial Intelligence (AI).

​”Masa depan akan ditentukan oleh kemampuan manusia mengelola kekuasaan secara bijaksana. Multilateralisme dan hukum internasional semakin vital untuk memastikan kekuasaan dijalankan berdasarkan aturan, bukan kesewenang-wenangan,” tegas Guterres.

​Nada serupa disampaikan Khalilur Rahman. Ia menekankan bahwa PBB memang organisasi yang tidak tergantikan, tetapi status tersebut tidak ada gunanya jika gagal memberikan dampak nyata. Reformasi birokrasi dan keberanian mengambil tindakan konkret menjadi syarat mutlak jika PBB ingin memulihkan legitimasi di mata publik dunia.

​Di tengah retorika PBB yang berulang tentang reformasi, posisi Indonesia diuji untuk membuktikan diplomasi yang tidak sekadar normatif. Dalam rangkaian High-Level Week yang mencakup krisis kenaikan permukaan laut, transisi energi berkeadilan, hingga penghapusan senjata nuklir.

Indonesia pun membawa empat agenda krusial diantaranya, mendorong penyelesaian konflik secara adil dan menghentikan pendudukan. Memainkan peran penengah di tengah polarisasi kekuatan barat dan timur, mengemukakan suara Global South agar struktur PBB tak lagi didominasi segelintir negara kekuatan lama, dan memamerkan capaian pembangunan domestik sekaligus menyelaraskannya dengan agenda global.

​Partisipasi Menlu Sugiono di New York menandai pertaruhan diplomasi bebas-aktif Indonesia. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia mampu menekan negara-negara anggota PBB agar tema “memulihkan kepercayaan” tidak sekadar menjadi jargon tahunan di atas podium, melainkan menjelmakan aksi nyata bagi perdamaian dunia. (OP/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!