Highlight

Larungan Telaga Ngebel 2026: Simbol Rasa Syukur, Persatuan, dan Refleksi Diri Masyarakat Ponorogo

img 20260617 wa0047

PONOROGO | INTIJATIM.ID – Keberadaan Telaga Ngebel tidak sekadar menjadi lanskap alam yang indah, melainkan berkah nyata yang menopang urat nadi kehidupan masyarakat sekitarnya. Sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil bumi, warga di kawasan Telaga Ngebel kembali menggelar tradisi tahunan Larungan Telaga Ngebel yang bertepatan dengan momen pergantian Tahun Baru Islam dan Grebeg Suro 2026.

​Tradisi yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya utama di Ponorogo ini memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Sebelum dikoordinasikan secara massal, upacara adat ini awalnya dilakukan secara terpisah oleh warga di empat desa.

​“Tradisi ini sudah berlangsung lama dan turun-temurun di lingkungan warga Desa Wagir Lor, Desa Ngebel, Desa Sahang, dan Desa Gondowido,” ujar Fibi Chandra, Sekretaris Panitia Larungan Telaga Ngebel 2026.

​Titik balik tradisi ini terjadi pada tahun 1992, ketika Pemerintah Kecamatan Ngebel mulai mengintegrasikan pelaksanaan larungan dari keempat desa tersebut menjadi satu kegiatan bersama. Sejak saat itu, prosesinya diseragamkan pada bulan Suro dan resmi dimasukkan ke dalam rangkaian agenda budaya Grebeg Suro.

​Meskipun sempat mengalami beberapa kali perubahan nama, mulai dari Larung Sesaji hingga Larung Risalah Doa, para sesepuh akhirnya sepakat untuk menggunakan nama Larungan Telaga Ngebel.

​Fibi menegaskan bahwa perubahan nama tidak mengubah esensi ritual. Larungan tetap menjadi simbol kembalinya sebagian rezeki yang didapat warga kepada Sang Pencipta.

“Telaga Ngebel diakui telah memberikan kontribusi besar bagi sektor pertanian, perikanan, kesuburan tanah, hingga sektor pariwisata,” jelasnya.

​Rangkaian ritual adat ini dimulai sejak malam 1 Muharam (1 Suro) dengan beberapa prosesi sakral yang sarat makna. Seperti Jamasan Wedus Kendit, ​Larung Rudiro & Cok Bakal, ​Lampah Ratri yang berjalan mengitari telaga pada malam hari sembari membawa obor sebanyak 1.960 obor.

​Acara puncak dari tradisi ini ditandai dengan dilarungnya Buceng Agung ke tengah Telaga Ngebel. Gunungan utama yang berisi hasil bumi ini dibuat dengan formula khusus berbahan campuran nasi dan ketan agar strukturnya tetap kokoh selama prosesi ritual berlangsung.

​Bagi masyarakat Ngebel, larungan bukan sekadar tontonan atau rutinitas tahunan, melainkan warisan leluhur yang mengikat nilai spiritualitas, gotong royong, dan sejarah.

​”Yang paling penting adalah bagaimana tradisi ini tetap berjalan dan tidak terputus. Karena di dalamnya ada nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga,” pungkas Fibi. (Nung/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!