Gempur Karhutla Darat dan Udara, BNPB dan Tim Gabungan Pangkas Sisa Lahan Terbakar Hingga 96 Hektare
JAKARTA | INTIJATIM.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan lintas lembaga terus memperketat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Lewat kombinasi pengerahan puluhan ribu personel darat dan armada udara, area karhutla yang tersisa kini berhasil ditekan secara signifikan.
Dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) RI, Selasa (29/9), Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan perkembangan positif penanganan di lapangan.
Hingga 28 September 2026, total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas tercatat mencapai 527,6 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 431,53 hektare (81,7%) berhasil dipadamkan—meliputi 369,03 hektare melalui operasi darat dan 62,5 hektare via pemadaman udara.
Saat ini, sisa lahan yang belum padam menyisakan 96,07 hektare, menyusut tajam dari hari sebelumnya (27 September) yang berada di angka 158,36 hektare.
Penurunan sisa area terbakar sebesar 62,29 hektare didorong oleh keberhasilan pemadaman di beberapa wilayah. Diantaranya di Kalimantan Tengah berhasil memangkas area terbakar sebesar 46,70 ha. Kalimantan Selatan menurun 17,74 ha, dan di Jambi menurun 1,50 ha, sertaKalimantan Barat menurun 1 ha.
“Meski secara umum membaik, kewaspadaan tetap ditingkatkan di dua wilayah yang mengalami kenaikan titik api, yaitu Sumatera Selatan (naik 4,15 ha) dan Riau (naik 0,5 ha),” jelasnya.
Pencegahan dan pemadaman di jalur darat mengandalkan puluhan ribu personel Satgas gabungan dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan. Riau menjadi wilayah dengan pengerahan pasukan terbesar, diikuti Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan. Sebanyak 14.837 personel diterjunkan ke Riau, Kalimantan Barat 14.575 personel, Sumatera Selatan 11.026 personel, Kalimantan Selatan 7.927 personel, Jambi 5.984 personel, dan Kalimantan Tengah sebanyak 4.686 personel.
” Fokus utama Satgas darat adalah penanganan kawasan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan. Personel dibekali peralatan intensif seperti pompa apung, drone termal, hingga teknik injeksi air dan surfaktan untuk menembus titik api bawah tanah,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Untuk mendukung penanganan jalur darat, BNPB menyiagakan 56 unit armada udara, terdiri dari 13 unit patroli/Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan 43 unit water bombing.
Selain itu, operasi di lapangan menghadapi sejumlah tantangan berat, seperti di Kalimantan, Angin kencang, sulitnya sumber air, serta kabut asap tebal membatasi jarak pandang penerbangan water bombing. Tim mengatasi keterbatasan ini dengan memasang tangki air portabel dan menggunakan drone termal. Wilayah Sumatera dengan karakteristik lahan kering, perubahan arah angin, dan akses menuju kepala api yang sulit dijangkau diatasi melalui pembuatan sekat bakar serta pembangunan embung dan kanal penampungan air.
Sementara itu, tantangan OMC bekerja sama dengan BMKG, penyemaian awan terus dilakukan secara fleksibel menyesuaikan dengan kandungan uap air dan potensi pertumbuhan awan di atmosfer.
Menanggapi dampak kabut asap terhadap penurunan kualitas udara dan kesehatan, pemerintah bergerak cepat membagikan masker, meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, serta menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara situasional bagi anak sekolah di wilayah terdampak.
BNPB memastikan sinergi antarlembaga akan terus diperkuat untuk menuntaskan sisa titik api, mencegah kebakaran susulan, dan melindungi aktivitas serta kesehatan masyarakat dari ancaman asap, ” pungkasnya. (OP/IJ)
source: siberindo.co
![]()



Post Comment