Hari Pahlawan 2026, Wali Kota Surabaya: Selagi Masih Ada Anak Putus Sekolah, Maka Kita Belum Merdeka
SURABAYA | INTIJATIM.ID – Atmosfer heroik penuh semangat kebangsaan menyelimuti kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya, pada Minggu (1/11/2026). Rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2026 resmi dibuka melalui pertunjukan teatrikal kolosal bertajuk “Suroboyo Wani”, yang sukses menyedot perhatian sekitar 170.000 penonton.
Acara yang kaya akan nilai sejarah ini menyajikan perpaduan seni peran, musik, dan rekonstruksi napak tilas perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pertunjukan diawali dengan aksi teatrikal permainan bola oleh tokoh Soegiharto yang diperankan aktor Surabaya Juang. Suasana riang mendadak berubah mencekam saat sirene meraung, menandai datangnya utusan pemuda yang membawa kabar ultimatum Sekutu.
Dentum musik pengiring bertransformasi menjadi genderang perang. Para pemain secara simbolis berganti atribut menjadi pejuang berbekal bambu runcing dan membentuk barisan Laskar Rakyat Kapasan.
Adegan berlanjut saat Soegiharto menukar sepatunya dengan senjata, lalu bergabung bersama laskar menuju markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Di sana, mereka disambut langsung oleh Kolonel Sungkono. Sebelum memimpin seruan pertempuran, sosok Kolonel Sungkono melangkah menghampiri Ibu Pertiwi yang dikelilingi Laskar Putri serta ibu-ibu Dapur Umum untuk bersimpuh memohon doa restu.
Suasana semakin khidmat ketika Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memimpin langsung menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bendera Merah Putih dari veteran LVRI kepada Wali Kota Eri Cahyadi (yang memerankan sosok Kolonel Sungkono), sebelum diteruskan ke Paskibraka Surabaya sebagai tanda resmi pemberangkatan Parade Juang 2026.
Dalam orasinya di hadapan ratusan ribu warga, Wali Kota Eri Cahyadi menggelorakan pekik kemerdekaan seraya mengenang momentum bersejarah 10 November ketika arek-arek Suroboyo berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dan menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby.
Namun, Wali Kota Eri menegaskan bahwa medan pertempuran hari ini telah bergeser. Musuh utama masyarakat saat ini bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan masalah sosial dan ekonomi.
”Merdeka! Selagi ada kemiskinan, selagi masih ada anak putus sekolah, maka kita belum merdeka. Dibutuhkan kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya,” tegas Walikota Surabaya, Jawa Timur.
Menyoroti tema “Suroboyo Wani“, Wali Kota Eri mengajak seluruh warga Surabaya, Forkopimda, dan pemangku kepentingan untuk menanggalkan ego sektoral dan berani mengambil peran sebagai pahlawan masa kini, mulai dari pahlawan lingkungan, pahlawan kemanusiaan, hingga pahlawan sosial.
”Arek Suroboyo dilahirkan punya jiwa pahlawan. Saya berharap kemerdekaan itu tidak hanya menjadi slogan, tapi kita bertempur bersama hari ini, menjadi pahlawan bersama untuk Surabaya lebih sejahtera,” pungkasnya. (Rwy/IJ)
![]()



Post Comment