Highlight

Liburan ke Belanda (Belanda Surganya Bersepeda) Jilid 4 

Liburan ke Belanda (Belanda Surganya Bersepeda) Jilid 4 

Oleh: Suprawoto

Kita pernah bulan madu dengan sepeda sebagai alat transportasi untuk bepergian jarak dekat dan menengah. Tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an sepeda telah menjadi transportasi utama bagi tua dan muda di Indonesia. Dulu teman-teman saya sekolah di SMPN Maospati banyak yang berasal dari Kecamatan Sukomoro, Karangrejo, Barat dan sekolahnya di SMPN Maospati, kalau pergi ke sekolah semua juga naik sepeda. Kalau merasa capai bersepeda karena dianggap jauh bagi perempuan khususnya, banyak yang kemudian kost di sekitar sekolahan.

Bahkan guru-guru saya semua naik sepeda. Demikian juga kepala sekolah kalau ke sekolah juga bersepeda. Bahkan guru-guru saya yang rumahnya Madiun, setiap hari dilaju naik sepeda pulang pergi. Dan setiap hari harus mengajar masuk sekolah, karena guru-guru waktu itu jumlahnya juga masih terbatas. Tidak sebanyak sekarang. Tak mengherankan bila yang namanya parkir sepeda dimana pun sekolah dulu penuh. Seingat saya belum ada guru yang ke sekolah naik sepeda motor, sama sekali belum ada.

Tidak hanya ke sekolah, ke kantor juga banyak yang naik sepeda. Demikian juga yang berjualan juga bersepeda. Di desa saya yang waktu itu banyak tumbuh industri kerupuk beras rumahan, yang jualan juga membawa dagangannya dengan sepeda. Berjualannya juga cukup jauh, sampai pasar Dolopo dan Ngawi dengan membawa rombong sampai tinggi dibonceng di belakang sepeda. Saya sendiri waktu masuk sekolah di SMAN Magetan tahun 1972 dan kemudian kost di Desa Candirejo juga membawa sepeda. Kalau hari Sabtu pulang ke Maospati naik sepeda dan kembali ke Magetan hari Senin menjelang Subuh harus sudah berangkat.

Bahkan ketika tahun 1976/1977 saya mulai kuliah ke UGM Yogya juga naik sepeda sampai dengan lulus. Demikian juga waktu saya kuliah masih banyak mahasiswa yang naik sepeda kalau kuliah. Hanya anak-anak orang kaya saja kalau kuliah naik sepeda motor. Begitu banyaknya mahasiswa di Yogyakarta yang naik sepeda, belum yang ke kantor maupun murid-murid sekolah apalagi waktu pagi dan pulang kantor jalan-jalan di Yogyakarta penuh dengan sepeda. Tak mengherankan bila Yogyakarta waktu itu mendapat julukan “Kota pelajar dan kota sepeda.”

Karena jumlahnya sepeda demikian banyak, maka tak mengherankan bila waktu itu pajak sepeda menjadi salah satu andalah pendapatan asli daerah kabupaten/kota. Setiap tahun  sepeda harus dibelikan plombir/peneng sebagai tanda telah membayar pajak sepeda. Dan plombir/peneng tadi di tempel di rangka sepeda (biasanya ditempel di bagian depan). Bahkan untuk meningkatkan pendapatan daerah, seringkali dilakukan Razia bagi sepeda yang belum membayar pajak kemudian langsung didenda dan membayar di tempat. Dan pajak sepeda resmi dihapus baru pada tahun 1997 karena dianggap tidak efektif lagi.

Namun sayang, bulan madu bersepeda di Indonesia semua itu tinggal cerita. Saat ini naik sepeda bukan lagi menjadi alat trasportasi penting bagi masyarakat Indonesia. Anak sekolah SMP saja banyak yang ke sekolah naik sepeda motor walupun secara formal belum boleh karena belum memiliki SIM. Saat ini hampir tidak ada anak sekolah baik SMP maupun SMA yang naik sepeda ke sekolah.  Apalagi ke kantor. Kalau ada pegawai ke kantor naik sepeda mungkin dianggap miskin. Kalau saat ini ada orang yang naik sepeda ke kantor misalnya, pasti pada acara seremonial saja. Atau yang lebih ekstrim untuk flexing saja dengan harga sepeda yang sangat mahal.  Berbeda sekali dengan di Belanda. Sepada seperti tidak bisa dilepaskan dari aktivitas warganya.

Sepeda Sudah Dikenalkan Sejak Kecil. 

Di Belanda sudah menjadi kebiasaan di sebuah keluarga, bila anak dua tahun sudah dibelikan sepeda kecil untuk keseimbangan. Tidak seperti sepeda kecil di Indonesia yang kanan kiri samping roda belakang masih dikasih tambahan roda kecil agar tidak jatuh. Di Belanda tidak. Sepeda anak kecil sering tidak dipasang roda tambahan di roda belakang. Kalau anak-anak akan mengendarai maka kedua kakinya yang mengayuh dengan menjejakkan kaki di tanah.

Dengan sepeda kecil yang dikayuh dengan menjejakkan kedua kakinya seorang anak mulai kecil sudah dikenalkan dengan sepeda. Demikian juga keseimbangan anak ketika mengendarai sepeda sudah dilatih sejak kecil. Kalau orang tuanya pergi ke mal di centrum kota misalnya, bila rumahnya tidak terlalu jauh biasanya anak-anak mengendarai sepeda kecil tersebut melewati trotoar dan orang tuanya mengikuti di belakangnya.

Demikian juga kalau pergi ke sekolah, juga sudah mulai mengedarai sepeda kecil dan orang tua mengikuti dari belakang. Kalau anak pergi ke sekolah tidak mengendarai sepeda kemudian diantar orang tuanya dengan bersepeda. Jarang sekali anak-anak pergi ke sekolah diantar memakai mobil oleh orang tuanya. Dan kalau mengantar dengan sepeda, di boncengan ada tempat khusus untuk membonceng anak-anak. Tidak boleh anak-anak dibonceng di boncengan sepeda tanpa alat khusus tempat semacam tempat duduk anak-anak. Atau tempat duduk diletakkan di depan.

Demikian juga untuk anak-anak yang sudah agak besar seusia SD hampir semua memakai sepeda kalau ke sekolah. Demikian juga yang seusia anak semacam SMA di Indonesia juga kalau ke sekolah memakai sepeda. Tak mengherankan kalau yang namanya sekolah di Belanda mulai setingkat SD sd SMA/SMK tempat sepeda selalu penuh dengan berbagai macam model sepeda di tempat parkirnya. Mengapa orang tua di Belanda merasa aman anak-anaknya bersepeda di jalan-jalan raya? Yak arena semua tertib dan teratur.

Jalan Khusus Sepeda di Belanda. 

Cara berpikir kita dengan para pengambil kebijakan di Belanda sungguh berbeda. Kalau kita jalan-jalan raya dilebarkan selebar-lebarnya. Seolah memberi karpet merah kepada kendaraan pribadi. Tidak dengan transportasi publik yang ada kecenderungan terpinggirkan. Tak mengherankan bila semakin lebar jalan dibuat, bukan malah semakin lancar, tetapi semakin banyak kendaraan pribadi yang lewat seiring dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat.

Tidak dengan di Belanda. Di berbagai tempat pengembangan kota, justru jalan-jalan mobil tidak dibuat lebar tetapi cukup dibuat satu jalur mobil kanan kiri dengan tengahnya jalur hijau yang lebar dengan pohon-pohon di tengahnya. Demikian juga jalur sepeda dibuat tersendiri di kanan kiri dengan dibuat warna cat merah. Tempat pejalan kaki atau pedestrian juga dibuat sangat lebar sampai-sampai kalau ada pasangan yang sedang berjalan bergandengan saling berpapasan tetap bisa jalan dengan tenang.

Untuk memperlancar lalu lintas barang misalnya, jalan bebas hambatan dibuat tersendiri sehingga kendaraan berbagai ukuran dapat berjalan dengan lancar. Perencanaan memang dibuat sedemikian mendetail. Sehingga semua jenis transportasi bisa berjalan dengan baik. Tidak saling mendominasi. Semua ada tempat dan jalurnya sendiri-sendiri. dan semua juga sangat mentaati aturan yang telah dibuat.

Selain jalan-jalan yang dibuat tertib untuk semua jenis, juga rambu-rambu sangat jelas. Di semua tempat apalagi persimpangan antara pejalan kaki, sepeda dan mobil rambu-rambu dibuat sedemikian jelas. Kendaraan mana yang lebih dulu atau didahulukan semua tertib. Kalau di aspal jalan ada tanda segi tiga di mana yang lancip mengarah kepada kita, maka kendaraan kita harus berhenti lebih dulu walaupun tidak ada lampu lalu lintas. Tanda tersebut sudah mengharuskan kendaraan mana yang harus berhenti.

Demikian juga sepeda, kalau sepeda harus menyeberang jalan juga harus di tempat penyeberangan. Tidak boleh seenaknya menyeberang di jalan yang bukan tempat penyeberangan. Namun demikian bagi yang baru pertama bersepeda di Belanda menurut pengalaman saya juga harus berhati-hati. Bagi warga Belanda yang biasa berkendaraan sepeda dengan cepat, sudah biasa, namun bagi kita yang belum terbiasa harus berhati-hati.

Mengapa menurut hemat saya bersepada bagi kita harus berhati-hati? Pertama, karena kebiasaan kita berkendaraan ada di bagian sebelah kiri, sedang di Belanda berkendaraan ada di sebelah kanan. Tentu kebiasaan ini juga sangat berpengaruh ketika kita bersepeda di Belanda. Kedua, kita biasanya kalau bersepeda santai tidak cepat. Berbeda dengan di Belanda, warga Belanda biasanya bersepada dengan kecepatan tinggi. Dan itu dilakukan oleh anak-anak sampai dengan orang tua. Kalau kita bersepeda terlalu pelan justru akan mengganggu sepeda yang lain di belakang kita. Seringkali kita mendengar omelan dari pesepeda lainnya kalau kita bersepeda terlalu pelan.

Tempat Parkir Sepeda. 

Di mana pun di Belanda pasti disediakan tempat parkir sepeda. Baik itu di stasiun central (besar) maupun kecil. Demikian juga di setiap pemberhentian bus pasti ada tempat parkir sepeda. Demikian juga di tempat perbelanjaan, di centrum (pusat kota), sekolah sampai dengan kampus perguruan tinggi juga pasti disediakan tempat parkir sepeda.

Dulu ketika anak saya diterima mengambil master di VU Amsterdam University, sebagai mahasiswa internasional baru untuk mengenalkan kendaraan praktis di Belanda diberi sepeda oleh kampusnya secara gratis. Sepeda yang diberikan kampus kepada anak saya diberi warna mencolok (biru) dengan logo dan nama kampus. Dengan pemberian sepeda kampus tersebut, anak saya kalau kuliah naik sepeda sekitar 6 Km dari apartemen tempatnya tinggal selama kuliah di Amsterdam.

Saya membayangkan, mengapa kampus-kampus besar di Indonesia tidak memberi sepeda kepada mahasiswa barunya dengan bekerja sama dengan pabrik sepeda misal. Dan sepeda setiap universitas memiliki ciri khas tersediri. Mungkin warna maupun modelnya disesuaikan misal dengan warna masing-masing kampusnya. Sedang biayanya bisa dibebankan kepada uang masuk mahasiswa.

Kalau ini dilakukan masing-masing universitas saya kira mahasiswa baru akan senang dan bangga memakai sepeda ke kampus. Dan demikian juga orang tuanya juga pasti tidak akan keberatan dengan skema itu. Kalau kebijakan itu dimulai dari kampus, budaya bersepada dan memakai kendaraan ramah lingkungan itu dimulai lagi dari kaum terdidik akan lebih simpatik. Tidak selalu anjuran naik sepeda hanya dimulai dengan cara seremonial setelah itu tidak ada kelanjutannya. Atau anjuran bersepeda selalu dengan cara hanya himbauan tanpa contoh kongrit. Akhirnya budaya bersepeda semakin jauh dari masyarakat Indonesia.

Berbeda di Belanda. Yang namanya tempat parkir sepeda di stasiun central seperti stasiun Den Haag, Roterdam, Amsterdam, Utrecht dan kota besar lainnya jumlah sepeda yang diparkir tidak hanya ribuan tetapi puluhan ribu. Di stasiun kecil di stasiun metro saja jumlahnya ribuan, tidak hanya ratusan. Demikian juga di tempat pemberhentian bus kecil juga banyak sepeda diparkir.

Yang mendorong warga Belanda bersepeda, juga kalau parkir sepeda di mana pun gratis. Baik itu di stasiun bus, kareta atau di tempat-tempat umum. Dengan demikian warga Belanda banyak yang mengambil sikap daripada naik mobil atau naik transportasi umum yang relatif mahal maka lebih hemat naik sepeda. Bayangkan kalau naik kendaraan pribadi, baru parkir saja sekitar 8 Euro per jamnya. Apalagi bagi warga Indonesia yang perginya selain wisata bukan untuk menghabiskan uang tetapi juga berhemat, tentu akan lebih hemat naik sepeda. Kalau kita rupiahkan baru parkir mobil sejam saja sama dengan 8 X Rp 20.000= Rp 160.000. Dan kalau naik bus/trem dalam kota rata-rata 2-5 Euro. Dengan demikian naik sepeda merupakan pilihan bijak bagi siapa saja kalau pergi ke Belanda. Tidak hanya bagi warga Belanda semata.

Berbagai Model Sepeda di Belanda. 

Di Belanda berbagai model sepeda ada. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Sepengetahuan saya baru di Belanda model-model sepeda ada berbagai macam keperluannya. Ada sepeda untuk anak kecil untuk melatih keseimbangan. Itu pun juga ada berbagai model dan bisa dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan ketrampilan dari si anak. Bisa dipasang penyangga roda tambahan sehingga tidak gampang jatuh atau nantinya dihilangkan untuk sepeda keseimbangan. Bahkan dipasang pengayuh bila sudah bisa menaiki sepeda.

Ada sepeda yang khusus anak-anak seusia SD dan biasanya digunakan untuk sekolah. Di depan bisa dipasang keranjang atau keranjang ditaruh di belakang. Juga ada sepeda untuk remaja, dengan berbagai modelnya. Malah sekarang lagi ngetrend sepeda yang roda karetnya agak besar dengan ditambah tenaga listrik sehingga jalannya agak lebih kencang lagi. Saya sering lihat anak-anak muda banyak mengendarai sepeda semacam ini. Tetapi menurut anak saya biasanya anak-anak yang mengenderai model sepeda semacam ini anaknya kesannya agak-agak nakal.

Sedang sepeda untuk orang tua juga banyak jenisnya. Untuk perempuan dan laki-laki juga berbeda. Namun juga banyak sepeda yang bisa dipakai laki-laki dan perempuan. Bahkan ada sepeda yang modelnya seperti becak, tetapi tampak bagus modelnya dan kokoh. Penumpang di depan dan yang mengayuh di belakang. Persis seperti becak. Tetapi biasanya kalau becak di Belanda hanya untuk mengantarkan atau membawa anak-anak ke sekolah atau pergi jalan-jalan. Becak sepeda di Belanda disebut “bakfiets.”

Jangan bayangkan harga bakfiets itu murah seperti becak di Indonesia. Harganya cukup mahal. Rata-rata kalau baru harganya mencapai 5.000 Eruro atau sekitar 100 juta rupiah. Tetapi warga Belanda lebih suka memakai bakfiets ini untuk mengantarkan anak atau cucunya ke sekolah. Banyak sekali saya menemui warga Belanda yang mengantarkan anak atau cucunya ke sekolah dengan mengendarai bakfielts. Saya mengenal kebiasaan itu karena saya sering menyaksikan ketika saya mengantarkan atau menjemput cucu saya sekolah.

Yang menarik itu, bakfiets ini modelnya juga bermacam-macam. Ada yang model baknya di tengah antara roda depan dan belakang. Dan rodanya juga dua. Kadang saya juga heran, laki-laki dan perempuan kok ya bisa mengendarai bakfiets yang model roda dua ini. Dan kalau jalan juga cepat sekali tidak takut jatuh. Saya sendiri belum pernah mencobanya sehingga saya belum bisa bercerita banyak.

Demikian juga ada yang baknya model di depan dengan roda dua di depan dan roda belakang satu seperti becak di Indonesia. Namun modelnya juga bermacam-macam. Ada yang model tertutup nampaknya hanya digunakan untuk membawa anak-anak. Tetapi juga ada model bak terbuka yang digunakan untuk serba guna atau berbagai keperluan. Baik untuk membawa anak-anak, maupun barang belanjaan misalnya. Karena saya juga sering melihat ibu-ibu muda belanja membawa bakfiets ini.

Saat ini jumlah penduduk di Belanda dengan jumlah sepeda masih banyak sepedanya. Malahan jumlah sepedanya dua kali lipat dibandingkan jumlah penduduknya. Dengan banyak sepeda di Belanda, wajar kalau transportasi di Belanda sangat sedikit menyumbang polusi. Apalagi saat ini sudah banyak kendaraan listrik di Belanda, baik bus maupun kendaraan pribadi. Dimana-mana tersedia tempat charge mobil listrik. Sampai di tempat parkir juga disisakan tempat khusus untuk charger mobil. Wajar kalau tingkat polusi di Belanda rendah. Bayangkan kalau saya kehujanan di Indonesia harus cepat-cepat mandi, kalau tidak biasanya kepala saya sering menjadi pusing. Di Belanda, saya kedinginan, kehujanan juga tidak apa-apa. Itulah kalau pemerintah dan warganya bahu membahu selalu menjaga liingkungannya. (bersambung).

 

 

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!