Highlight

Era Baru Teheran, Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi di Tengah Kobaran Perang

gridart 20260310 214046362

JAKARTA | INTIJATIM.ID – Republik Islam Iran resmi memasuki babak baru kepemimpinan yang krusial. Majelis Khobregan (Dewan Pakar Kepemimpinan) menetapkan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar) ketiga Iran, menggantikan ayahnya, mendiang Ayatollah al-Udzma Seyyed Ali Khamenei yang gugur akibat serangan militer.

​Penetapan ini diumumkan melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar Iran di Jakarta yang diterima pad Senin (9/3/2026). Mojtaba terpilih secara mutlak dengan mengantongi lebih dari 85 persen suara Dewan Pakar, di tengah situasi negara yang sedang membara akibat agresi militer Amerika Serikat dan Israel.

​Pemilihan ini tergolong luar biasa karena dilakukan dalam waktu singkat dan di bawah ancaman keamanan tingkat tinggi. Sebagaimana diketahui, Iran sedang berduka sekaligus bergejolak setelah serangan besar-besaran yang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi dan komandan militer senior.

​”Pemilihan ini membuktikan bahwa Republik Islam Iran adalah sistem yang berlandaskan supremasi hukum dan suara rakyat, bukan bergantung pada individu semata,” tulis pernyataan pers Kedutaan Besar Iran di Indonesia.

​Sebagai bentuk penegasan otoritas barunya, pada Senin pagi, Mojtaba langsung memegang tongkat komando dalam pelaksanaan tahap ke-30 Operasi “Janji Setia 4” (Va’deh Sadegh_4). Serangan balasan ini ditujukan langsung ke wilayah-wilayah yang diduduki Zionis Israel. Sesuai ​data yang dirilis pihak Teheran menunjukkan skala kerusakan yang mengerikan akibat agresi AS-Israel selama sepuluh hari terakhir. ​Korban Jiwa lebih dari 1.300 warga sipil dan anak-anak syahid, termasuk 175 siswi SD Syajarat Tayyibah di Kota Minab.

​Kerusakan 9.669 infrastruktur sipil hancur, mencakup ribuan rumah, puluhan pusat medis, dan fasilitas pendidikan. Serta penyerangan terhadap kapal perang Iran “Dena” di perairan internasional (2.000 mil laut dari pantai Iran) saat menuju India. Serangan tanpa peringatan ini menewaskan 104 personel di atas kapal yang diklaim sedang dalam misi pelatihan tidak bersenjata.

​Sikap kritis Teheran kali ini sangat tajam terhadap Washington.

Iran menyatakan telah menutup pintu diplomasi sepenuhnya bagi Amerika Serikat. Mereka mencatat “Tiga Dosa Besar” pengkhianatan AS terhadap meja perundingan. Seperti penarikan sepihak dari JCPOA (2018), serangan militer pada Juni 2025 saat proses perundingan putaran keenam, dan agresi Februari 2026 yang terjadi tepat setelah perundingan putaran kedua.

​”Tidak ada lagi kepercayaan. AS telah tiga kali mengkhianati diplomasi di tengah proses negosiasi,” tegas Duta Besar Iran.

​Di bawah kepemimpinan Mojtaba, Iran berusaha meyakinkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk bahwa moncong meriam mereka hanya diarahkan ke pangkalan militer AS dan instalasi Israel, bukan kepada negara-negara Muslim di kawasan. Iran memperingatkan bahwa keberadaan pangkalan militer AS di wilayah tersebut justru menjadi beban keamanan dan alat bagi “pembunuh anak-anak.”

​Kini, dunia menunggu langkah Mojtaba Khamenei selanjutnya. Apakah suksesi ini akan membawa Iran pada perlawanan yang lebih radikal, ataukah menjadi posisi tawar baru dalam konfrontasi global yang kian di ambang pecah. (OP/IJ)

Source: siberindo

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!