Highlight

Uji Profesionalisme di Perumdam Lawu Tirta, Independensi Pansel Atau Bayang-Bayang Politik

img 20250303 wa0030 scaled

MAGETAN | INTIJATIM.ID — Pelaksanaan Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) Calon Anggota Dewan Pengawas (Dewas) Perumdam Lawu Tirta Kabupaten Magetan pada Rabu (22/07) hari ini menjadi sorotan publik. Di balik proses seleksi yang tengah berjalan, independensi Panitia Seleksi (Pansel) serta komitmen netralitas Bupati dan Wakil Bupati Magetan kini benar-benar diuji.

​Sebanyak 22 peserta yang lolos verifikasi berkas administrasi memadati Ruang Ki Mageti, Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Magetan. Berdasarkan Keputusan Resmi Pansel Nomor Pansel-Dewan Pengawas/153/VII/2026, para peserta diwajibkan menjalani serangkaian evaluasi ketat, mulai dari psikotes, ujian tertulis, hingga penyusunan makalah strategi pengawasan BUMD air minum tersebut.

​Ketua Pansel sekaligus Sekretaris Daerah (Sekda) Magetan, Welly Kristanto, menjelaskan bahwa tahapan ini ditujukan untuk menguliti kapasitas dan kesiapan para calon dalam mengawal kinerja perusahaan daerah.

​”Peserta mengikuti psikotes, ujian tertulis, serta diwajibkan menyusun makalah yang berfokus pada formulasi strategi pengawasan perusahaan daerah air minum,” kata Welly, Rabu (22/07/2026).

​Dari 22 nama yang tersisa, muncul sejumlah tokoh populer di lingkup lokal, seperti jurnalis Rendra Sunarjono, mantan Komisioner KPU Magetan Edi Wiyono, serta eks anggota Bawaslu Abdul Azis Nuril Huda.

​Namun, perhatian publik paling tajam tertuju pada sosok Bahtiar Nurul Hudha, mantan calon legislatif yang dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan. Bahtiar memiliki rekam jejak sebagai Staf Ahli Anggota DPRD Jatim periode 2019–2024 sekaligus menjadi bagian dari tim pemenangan pasangan kepala daerah terpilih, Bunda Nanik dan Kang Suyat.

​Kehadiran figur berlatar belakang politik ini langsung memicu spekulasi hangat di tengah masyarakat. Isu dugaan “penataan posisi” dan ajang bagi-bagi jatah politik pun merebak luas di berbagai grup percakapan digital warga Magetan.

​Menanggapi dinamika tersebut, pengamat dari Pemerhati Air Magetan (PAM), Rudi Stiawan, mendesak agar proses rekrutmen ini benar-benar didasarkan pada kompetensi dan rekam jejak murni, bukan karena kedekatan ataupun imbalan politik.

​Pria yang akrab disapa Rugos ini menegaskan bahwa proses seleksi ini menjadi tolok ukur transparansi serta ujian profesionalisme bagi kepemimpinan Bupati Nanik dan Wakil Bupati Suyatni.

​”Ini adalah ujian profesionalisme bagi pemerintah daerah. Jangan sampai seleksi independen ini sekadar formalitas atau terkesan menjadi ajang pembagian jatah kekuasaan. Hasil keputusan harus terbebas dari favoritisme,” tegas Rugos.

​Sebagai komparasi, Rugos mencontohkan tata kelola PDAM Kota Surabaya yang terbukti profesional dengan mempercayakan posisi Dewan Pengawas kepada akademisi murni (seperti pakar dari ITS) dan praktisi tanpa keterikatan politik. Ia menyangsikan fungsi pengawasan Perumdam Lawu Tirta dapat berjalan objektif jika nantinya diisi oleh sosok yang memiliki utang Budi politik dengan penguasa daerah.

​Tahapan seleksi ini akan berlanjut hingga penetapan akhir dan pelantikan resmi oleh Kepala Daerah Kabupaten Magetan. Kini, publik Magetan menanti apakah keputusan akhir Pemkab Magetan akan benar-benar mengedepankan meritokrasi atau justru menyerah pada arus kepentingan politik. (Bgs/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!