Bahaya Mengintai di Balik Wi-Fi Gratisan, Data Pribadi Terancam Disadap
SIDOARJO | INTIJATIM.ID — Keberadaan fasilitas Wi-Fi gratis di tempat umum seperti kafe, warung kopi (warkop), hingga alun-alun, memang menjadi angin segar bagi masyarakat komuter dan mahasiswa. Namun, di balik kemudahan internet tanpa kuota tersebut, tersimpan ancaman siber serius yang siap menguras saldo digital hingga membocorkan data pribadi penggunanya.
Ancaman penyadapan berbasis credential harvesting (pencurian identitas login) dan session hijacking (pengambilalihan sesi akun) kini makin marak menyasar pengguna jaringan terbuka. Peretas oportunis biasanya memanfaatkan lalu lintas data tanpa enkripsi untuk memantau aktivitas digital para korban.
Dosen Informatika sekaligus Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Media Sosial Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM), Trian Basofi Rohman, S.S.I., M.Kom., menegaskan bahwa terhubung ke Wi-Fi publik tanpa proteksi sama saja dengan membuka privasi secara telanjang di ruang publik.
”Mengirim pesan, memasukkan password, atau bertransaksi menggunakan Wi-Fi gratisan di warung makan itu ibarat Anda meneriakkan PIN ATM memakai pengeras suara di tengah pasar. Siapa pun yang memiliki alat rekam bisa mendengarnya,” tegas Trian saat ditemui di Sidoarjo, Rabu (4/11/2026).
Dalam melancarkan aksinya, peretas kerap mengandalkan teknik Man-in-the-Middle (MitM). Pelaku biasanya menyebarkan jaringan nirkabel palsu (Rogue AP) dengan nama yang persis sama dengan Wi-Fi publik setempat, memanfaatkan fitur Auto-Connect pada gawai korban untuk menjebak mereka.
Kerentanan ini sering kali tidak disadari oleh para mahasiswa maupun pekerja profesional yang kerap mengerjakan tugas atau urusan pekerjaan di tempat umum.
”Sangat ironis jika mampu membangun arsitektur perangkat lunak yang rumit, namun kredensial database, token API, atau akses server bocor hanya karena melakukan coding dan deployment di warkop menggunakan Wi-Fi terbuka tanpa VPN,” jelasnya.
Fenomena ini kian memprihatinkan karena tingginya budaya masyarakat yang lebih takut kehabisan kuota data ketimbang kehilangan privasi dan keamanan aset finansial mereka.
Guna menekan risiko penyadapan dan pembobolan akun transaksi digital, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan menerapkan disiplin Operations Security (OPSEC) dalam bertInternet.
Beberapa langkah pencegahan yang bisa diterapkan adalah, selalu nonaktifkan sambungan Wi-Fi otomatis pada gawai agar tidak terhubung secara tak sengaja ke jaringan asing atau palsu. Alihkan koneksi ke paket data pribadi saat hendak melakukan transaksi perbankan, membuka dompet digital, atau mengakses informasi sensitif. Jika terpaksa menggunakan Wi-Fi publik, pastikan koneksi telah dilindungi oleh Virtual Private Network (VPN) yang aman. Serta, terapkan proteksi ganda pada seluruh akun digital sebagai benteng pertahanan terakhir dari akses ilegal.
”Jangan pernah menukar keamanan isi tabungan dan data pribadi Anda hanya demi menghemat kuota internet yang harganya tak seberapa,” pungkas Trian. (Vit/IJ)
![]()



Post Comment