Mengintip Sakralnya Bedhol Pusaka Grebeg Suro 2026, Saat Ponorogo Senyap dalam Gulita
PONOROGO | INTIJATIM.ID – Suasana magis dan khidmat menyelimuti Pringgitan (Rumah Dinas Bupati Ponorogo) pada Minggu (14/6/2026) tengah malam. Di bawah langit malam, prosesi tahunan Bedhol Pusaka dalam rangka menyambut Grebeg Suro dan Tahun Baru Islam kembali digelar dengan mempertahankan kesakralan penuh layaknya tradisi keraton.
Seluruh komunikasi dalam prosesi ini berjalan anggun menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil. Prosesi dimulai saat Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang bergelar Kanjeng Bupati selama prosesi berlangsung menerima kekancingan berupa rangkaian melati. Melati ini menjadi simbol tebusan untuk membedhol lima pusaka sakral Ponorogo.
Kelima pusaka daerah tersebut adalah:
- Tombak Kyai Tunggul Nogo
- Angkin Cindhe Puspito
- Songsong Kyai Tunggul Wulung
- Tombak Kyai Pamong Among Geni
- Tombak Kyai Bromo Geni
”Kelima pusaka Ponorogo ini akan diinapkan semalam di kompleks makam Batoro Katong sebelum dikirab dalam Pawai Lintas Sejarah. Setelah itu, pusaka-pusaka ini akan dijamas untuk kemudian disimpan kembali di Pringgitan,” jelas perempuan yang akrab disapa Bunda Lis tersebut.
Kekhidmatan memuncak saat ratusan bregada (prajurit) mulai mengarak kelima pusaka sejauh 5 kilometer menuju makam Batoro Katong. Untuk menjaga kekhusyukan, sambungan listrik Penerangan Jalan Umum (PJU) di sepanjang rute yang dilalui sengaja dipadamkan total.
Suasana Ponorogo seketika berubah hening dan syahdu. Ratusan prajurit berjalan tegap tanpa alas kaki (telanjang kaki) menembus kegelapan malam, hanya dipandu oleh temaram cahaya obor yang dibawa barisan depan.
Masyarakat yang menyemut di sepanjang jalan pun terdiam, larut dalam keheningan saat rombongan pelindung pusaka melintas, diiringi tetabuhan khas dari korps musik Keraton Surakarta.
Bunda Lis menegaskan bahwa Bedhol Pusaka bukan sekadar ritual tahunan yang berulang, melainkan media pelestarian budaya yang sangat krusial. Prosesi ini merefleksikan kembali momen bersejarah saat pusat pemerintahan Ponorogo berpindah dari Kota Lama.
”Melalui kirab pusaka ini, kita berupaya mewariskan kepada generasi muda nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kecintaan terhadap budaya lokal,” pungkasnya. (Nung/IJ)
![]()


Post Comment