Highlight

Proyek “Mubazir”: Rumah Kemasan Magetan Kini Sekadar Jadi Pajangan Kantor Dinas

img 20260225 wa0001

MAGETAN | INTIJATIM.ID – Harapan ribuan pelaku UMKM di Magetan untuk naik kelas melalui kemasan produk yang kompetitif tampaknya harus terkubur dalam-dalam. Proyek Rumah Kemasan Kabupaten Magetan senilai Rp 2,3 miliar yang rampung dibangun pada 2020 silam, kini justru menuai kecaman lantaran fungsinya yang diduga melenceng jauh dari tujuan awal.

​Alih-alih menjadi pusat inovasi dan produksi bagi industri kecil menengah (IKM), fasilitas megah tersebut kini tampak “ditelan” oleh birokrasi, menyatu menjadi ruang perkantoran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan.

​Kekecewaan mendalam diungkapkan oleh Ketua Forum Industri Kecil Menengah (IKM) Magetan, Ahmad Baiquni. Ia menilai bangunan miliaran rupiah itu kini tak lebih dari sekadar pajangan yang tidak memberikan manfaat nyata bagi para pengusaha kecil.

​“Seng jelas di enggo pajangan karo di enggo kenang kenangan terpendam (Yang jelas cuma jadi pajangan dan kenang-kenangan terpendam),” ketus Baiquni, Selasa (24/2/2026).

​Menurutnya, ketidakefektifan fasilitas ini memaksa para pelaku usaha untuk tetap mencari jasa desain dan produksi di tempat lain dengan biaya mandiri yang lebih mahal. Padahal, Rumah Kemasan seharusnya menjadi jembatan bagi UMKM untuk melakukan test market sebelum masuk ke produksi massal,” ungkapnya.

​Ketidakjelasan operasional Rumah Kemasan ini semakin diperparah dengan sikap tertutup pihak berwenang. Kepala Disperindag Magetan, Sucipto, memilih bungkam dan tidak memberikan respons saat dikonfirmasi terkait kondisi fasilitas tersebut.

Hal ini membuat kekhawatiran publik mengenai pertanggungjawaban anggaran yang bersumber dari uang rakyat. Jika terus dibiarkan tanpa evaluasi, proyek ini dipastikan menjadi aset yang “muspro” atau sia-sia. Seperti ​kerugian negara, lumpuhnya daya saing UMKM dan krisis kepercayaan bagi iklim investasi daerah.

​Kini, bola panas berada di tangan Bupati dan DPRD Magetan. Publik mendesak adanya audit lapangan segera untuk menyelamatkan aset daerah tersebut. Jangan sampai impian agar produk Magetan “bersaing secara visual” hanya menjadi narasi manis di atas kertas, sementara realitanya hanya berupa tumpukan semen dan peralatan canggih yang berdebu di ruang kantor dinas. (Red/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!