Highlight

Haul ke-18 Mbah Wo Kucing: Meneladani Sang Maestro di Balik Mendunianya Reog Ponorogo

oplus 16908288

PONOROGO | INTIJATIM.ID – Semangat pelestarian budaya kembali menggema di Desa Kauman, Ponorogo. Peringatan Haul ke-18 Kasni Gunopati, atau yang lebih dikenal secara luas sebagai Mbah Wo Kucing, menjadi momen refleksi penting bagi masa depan kesenian Reog Ponorogo.

Acara yang digelar di kediaman almarhum tersebut dihadiri langsung oleh Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita. Dalam sambutannya, perempuan yang akrab disapa Bunda Lis ini menegaskan bahwa Mbah Wo Kucing adalah sosok sentral yang meletakkan fondasi kuat bagi eksistensi Reog di panggung global.

“Mari bersama-sama mendoakan almarhum sekaligus meneladani semangat pengabdiannya dalam menjaga budaya,” ajak Bunda Lis, Senin (6/7).

Mbah Wo Kucing bukan sekadar nama besar dalam jagat seni Ponorogo. Sosok warok sepuh ini sangat identik dengan penampilannya yang khas dan berkarakter jenggot panjang, kumis lebat, serta cambang putih. Di luar penampilan fisiknya yang ikonik, rekam jejaknya dalam mendedikasikan hidup demi kelestarian Reog Ponorogo menjadikannya legenda yang hidup dalam ingatan masyarakat.

​Menurut Bunda Lis, ketokohan almarhum dalam dunia seni tidak perlu diragukan lagi. Melalui grup Reog Pujangga Anom yang diampunya, Mbah Wo Kucing berhasil mendidik dan melahirkan barisan seniman-seniman terbaik yang kini menjadi motor penggerak kebudayaan di Ponorogo.

“Reog Ponorogo yang sekarang ini mendapat pengakuan dunia tidak lepas dari jasa para seniman terdahulu, termasuk Mbah Wo Kucing,” terang Plt Bupati Ponorogo.

​Lebih lanjut, Bunda Lis mengingatkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan estafet perjuangan para leluhur. “Pengakuan resmi dari UNESCO yang menetapkan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) harus dijadikan motivasi tambahan, bukan sekadar kebanggaan di atas kertas,” jelasnya.

Merawat budaya adiluhung, lanjutnya, membutuhkan ketulusan dan konsistensi tinggi seperti yang telah dicontohkan oleh Mbah Wo Kucing semasa hidupnya.

​”Pengabdian Mbah Wo Kucing akan menginspirasi generasi muda untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan Reog Ponorogo sebagai identitas serta kebanggaan daerah, sekaligus sebagai warisan budaya dunia,” pungkas Bunda Lis optimistis. (Nung/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!