Borong 3 Kunjungan Kepala Negara, Presiden Prabowo Dinilai Sukses Jadikan Indonesia Jangkar Geopolitik Kawasan
JAKARTA | INTIJATIM.ID — Rangkaian diplomasi tingkat tinggi yang dilakoni Presiden Prabowo Subianto sepanjang pekan pertama Juli 2026 menuai apresiasi luas. Dalam waktu hanya satu pekan, Jakarta sukses menjadi tuan rumah bagi tiga kepala negara dari tiga poros geopolitik yang berbeda.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, menilai fenomena ini sebagai bukti nyata menguatnya posisi Indonesia di panggung internasional. Menurutnya, Indonesia kini bukan lagi sekadar penonton, melainkan telah bertransformasi menjadi jangkar geopolitik kawasan.
”Yang terjadi pekan ini bukan sekadar kunjungan protokoler yang berhenti pada foto bersama dan jamuan kenegaraan. Ini adalah konvergensi kepentingan strategis. Jakarta sedang menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum orang lain,” ujar Yuddy, yang juga merupakan mantan Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia.
Berikut tiga poros diplomasi strategis yang berhasil dikonsolidasikan oleh Presiden Prabowo dalam sepekan terakhir.
- Poros Eurasia: Karpet Merah untuk Belarus.
Pekan diplomasi dibuka oleh kunjungan kenegaraan Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, pada 1–2 Juli 2026. Kunjungan bersejarah ini setelah absen selama 13 tahun menghasilkan Peta Jalan Kerja Sama Bilateral Indonesia–Belarus 2026–2030. Fokusnya, pada ketahanan pangan, energi, industri, dan pasokan pupuk.
Dalam acara tersebut, Presiden Lukashenko menjadi kepala negara sahabat pertama yang menginap langsung di Istana Negara. Belarus merupakan gerbang utama Indonesia untuk menembus pasar Uni Ekonomi Eurasia, di mana Indonesia telah mengantongi perjanjian dagang.
- Poros ASEAN: Mempererat Kemitraan Hijau dengan Singapura
Pada 6 Juli 2026, Presiden Prabowo menggelar Leaders’ Retreat bersama Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, di Istana Merdeka. Pertemuan ini menegaskan eratnya hubungan dua tetangga dekat di Asia Tenggara.
Hasilnya, kedua negara ini melakukan penandatanganan 26 kesepakatan lintas sektor, dibidang ekonomi digital, perdagangan listrik lintas batas, kredit karbon, lingkungan hidup, serta pengamanan strategis Selat Malaka. Hal ini untuk menjaga stabilitas dan keterbukaan Selat Malaka sebagai jalur nadi perdagangan dunia.
- Poros Asia Selatan: Diplomasi Rudal dan Budaya Bersama India
Puncak pekan diplomasi ditutup oleh kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, pada 6–8 Juli 2026. Pertemuan bilateral ini menghasilkan capaian paling masif dan konkret dengan penandatanganan 14 nota kesepahaman (MoU) dan 6 inisiatif strategis di bidang pertahanan dan keamanan maritim. Yaitu, kontrak pengadaan sistem rudal BrahMos dan peluncuran Indonesia Open Network (ION). Selain itu, India berkomitmen mendukung penuh restorasi Candi Prambanan melalui Archaeological Survey of India—lembaga bereputasi dunia yang sebelumnya sukses mengonservasi Angkor Wat.
Yuddy Chrisnandi secara khusus menyoroti kesepakatan restorasi Candi Prambanan sebagai bentuk soft diplomacy yang jenius. Menurutnya, merawat warisan peradaban yang telah berusia lebih dari seribu tahun menunjukkan bahwa diplomasi Prabowo memiliki kedalaman rasa dan jiwa, bukan sekadar transaksional perdagangan.
Sebagai negara dengan ekonomi dan populasi terbesar di ASEAN, sudah selayaknya Indonesia mengambil peran kepemimpinan seperti ini.
”Ini bukan kebetulan. Ini buah dari kepemimpinan yang punya visi dan wibawa. Sudah sepantasnya Presiden Prabowo menjadi jangkar geopolitik kawasan, tempat berlabuhnya kepentingan banyak bangsa,” pungkas Yuddy. (OP/IJ)
![]()



Post Comment