Ironi Investasi Gizi di Magetan: Menu MBG Minim hingga Temuan Makanan Basi di Karangrejo
MAGETAN | INTIJATIM.ID – Harapan wali murid agar anak-anak mereka mendapatkan asupan nutrisi berkualitas melalui program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berbuah kekecewaan. Di wilayah Kecamatan Karangrejo, Magetan, pelaksanaan program ini menuai kritik tajam setelah ditemukan menu yang dianggap tidak memenuhi standar gizi hingga temuan makanan yang sudah tidak layak konsumsi (basi).
Kekecewaan publik meledak saat distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Mantren di SMPN 2 Karangrejo pada Selasa (10/3) kemarin. Bukannya menu empat sehat lima sempurna, para siswa hanya menerima paket berisi tiga item seperti kurma, kacang bawang, dan kroket isi sosis.
Ambarwati, salah satu wali murid asal Desa Pelem, tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Dengan estimasi anggaran per porsi mencapai Rp10.000, ia menilai komposisi tersebut sangat jauh dari kata ideal.
”Bangeten (Keterlaluan), MBG sekarang tambah miris. Isinya cuma tiga item saja. Bagaimana dengan gizinya? Apa tidak ada Satgasnya?” cetus Ambarwati dengan nada getir. Pun mempertanyakan kompetensi manajemen dan ahli gizi di balik SPPG Mantren.
Masalah kualitas kian meruncing dalam pendistribusian pada Kamis (12/3). Kali ini, keamanan pangan menjadi taruhannya. Sejumlah siswa melaporkan menu berbahan ubi ungu ditemukan dalam kondisi basi.
Pihak SMPN 2 Karangrejo pun bergerak cepat mengeluarkan peringatan darurat melalui pesan singkatnya guna mencegah potensi keracunan massal.
”Assalamualaikum… maaf anak-anak, MBG yang dari ubi ungu jangan dikonsumsi,” tulis perwakilan guru tersebut, menunjukkan sikap kritis sekolah dalam memproteksi siswa.
Sementara itu, Asisten Lapangan (Aslab) SPPG Mantren, Boy Septian, memberikan pembelaan bahwa porsi menu yang sedikit tersebut disesuaikan dengan skema dari Badan Gizi Nasional (BGN) akan dikembalikan ke Negara
”Sesuai juknis, apabila menunya sedikit, untuk dananya kita kembalikan ke negara. Semisal per porsi Rp.8 ribu, sisanyanya yang dua ribu dikembalikan,” terang Boy saat dikonfirmasi intijatim.id, Kamis (12/3/2026).
Saat ditanya terkait rincian harga per porsi, Aslap dapur MBG tersebut tidak bisa menjawab, lantaran bukan tupoksinya. “Terkait gizi dan rincian harga bisa tanya ke kepala dapurnya, karena bukan ranah saya,” jelasnya.
Saat dikonfirmasi kepada Kepala SPPG Mantren, Feri, memilih bungkam, meski telah dihubungi berkali-kali untuk dikonfirmasi terkait buruknya kualitas kontrol kualitas tersebut, karena tidak memberikan respons sedikit pun.
Kejadian beruntun di Karangrejo dalam pekan ini menunjukkan adanya celah besar dalam rantai pasok dan kontrol kualitas (Quality Control) di SPPG Mantren. Program MBG yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi justru berisiko menjadi kontraproduktif yang mengacu pada standar gizi yang tidak terukur, serta masalah waktu pengelolahan atau prosedur pengemasan atas adanya makanan basi.
Masyarakat kini mendesak adanya audit transparan terhadap SPPG Mantren serta pengawasan lebih ketat dari Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. Langkah ini penting agar anggaran negara yang dikucurkan benar-benar menjadi “investasi gizi” bagi generasi muda, bukan sekadar proyek formalitas yang mengabaikan kualitas.(Red/IJ)
![]()



Post Comment