Highlight

Berkah Tukang Cukur Langganan Masa Kecil Mensesneg, Saleh Diberangkatkan Umroh

oplus 16908288

NGAWI | INTIJATIM.ID – Menempati kios tembok kecil berukuran 1,5 meter kali tiga meter, Chairul Saleh (65) masih nampak cekatan memotong rambut salah satu pelanggannya, Rabu (11/3/2026).

Meski tempat kerjanya sempit, Saleh tak pernah mengeluh. Selama 41 tahun lebih, Saleh sudah menempati kios kecil yang disewanya dari dari koperasi milik Lapas Kelas IIB Ngawi,tepat didepan Kantor Kejaksaan Negeri, di Jalan Yos Sudarso, Kota Ngawi, Jawa Timur.

Sama halnya dengan tukang potong rambut tradisional lainnya, gunting dan sisir menjadi alat utama pemotong rambut. Tak hanya itu, sebuah kaca berbentuk kota persegi ditempel ditembok menghadap pelanggannya.

Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Saleh tetap semangat menjalani aktifitasnya sehari-sehari. Berangkat jam sembilan pagi lalu pulang jam satu siang untuk menunggu para pelanggannya. Ia sengaja tak memilih waktu hingga sore karena menyadari umurnya sudah semakin senja.

“Saya buka pagi sampai siang saja. Setelah itu pulang. Tetapi kalau ada yang mau potong rambut bisa datang ke rumah langsung. Khusus potong rambut di rumah hanya saya layani sampai sore sebelum Magrib,” kata Saleh.

Tarif yang dikenakan Saleh pada pelanggannya tergolong murah meriah. Sekali potong, Saleh hanya mematok tarif Rp 13.000. Pasalnya, jika tarif disamakan dengan usaha barbershop kekinian, Saleh akan kehilangan pelangganya.

“Kalau nggak gitu saya bisa kalah saingan. Apalagi pelanggan saya untuk kalangan orang tua. Kalau kalangan muda jarang sekali,” jelasnya.

Sebelum pandemi covid, Saleh mengaku bisa mendapatkan konsumen hingga belasan orang. Namun usai pandemi berakhir, pelangganya berkurang banyak. Paling banyak sehari ia bisa mendapatkan tujuh pelanggan untuk potong rambut.

Baginya, sedikit banyaknya pelanggan yang didapat setiap hari selalu disyukurinya. Saleh tidak pernah menargetkan berapa banyak konsumen yang akan datang ke kios potong rambut mininya.

Terlebih saat ini kedua anak Saleh sudah berkeluarga semua. Kegiatan potong rambut hanya dijadikan Saleh sebagai pengisi aktifitas hariannya.

“Sedikit banyak yang saya dapatkan selalu saya syukuri. Setidaknya dari uang yang saya dapatkan saya tidak merepotkan anak-anak saya. Dari hasil jasa potong rambut saya bisa membelikan jajan cucu-cucu saya kalau datang ke rumah,” ungkap Saleh penuh dengan senyum.

Empat puluh tahun lebih menjadi tukang potong rambut di jantung Kota Ngawi bukan tanpa suka duka. Saat ramai pengunjung, acapkali konsumennya tidak sabar menunggu. Rata-rata ingin segera dicukur rambut meski antri belakangan.

“Suka dukanya, kalau sepi ya susah. Kalau ramai kadang yang datang belakangan minta dulu. Tetapi tetap saya berlakukan yang antri duluan. Kalau tidak mau antri ya sudah. Sekarang yang antri duluan. Saya menjaga perasaan orang. Kalau mau ya silakan kalau tidak juga tidak apa-apa,” ungkapnya.

Dari pendapatannya sebagai tukang cukur rambut, saat Saleh muda bercita-cita menjadikan kedua anaknya bekerja ditempat yang mapan. Lantaran penghasilanya yang pas-pasan, waktu anak-anak masih kecil jarang diberikan uang saku saat berangkat sekolah.

“Uangnya banyak saya tabung untuk biaya anak saya kuliah. Dan saya bersyukur, dua anak saya bisa lulus sarjana semuanya. Dan sekarang mereka sudah bekerja dan berkeluarga,” kata Saleh.

Kendati bekerja sendirian dengan kondisi ruangan yang kecil, Saleh rupanya memiliki pelanggan orang-orang ternama di Kabupaten Ngawi. Bahkan saat ini salah satu pelanggannya sudah menjadi Mensesneg Kabinet Merah Putih, Prasetyo Hadi.

“Pak Prasetyo waktu masih SD hingga SMP potong rambutnya di tempat saya. Kemudian Pak Prasetyo melanjutkan di SMA Taruna Nusantara di Magelang. Selain Pak Prasetyo, langganan saya mantan Bupati Ngawi, Harsono dan Bupati Ngawi saat ini Ony Anwar Harsono. Untuk potong rambut, biasanya saya yang kerumahnya,” tutur Saleh.

Menjadi langganan potong rambut masa kecil Mensesneg, Prasetyo Hadi, rupanya menjadi berkah bagi Saleh.  Awal Januari 2026 lalu, Saleh bersama istrinya diberangkatkan umroh dibiayai Mensesneg Prasetyo Hadi.

Tak sendirian, Saleh berangkat bersama orang-orang yang dekat dengan Prasetyo Hadi di masa kecilnya di Kota Ngawi.  Diantaranya, guru SMPN 2 Ngawi, pemilik kantin, tukang pijat hingga sopir pribadi orang tua Prasetyo.

Saleh pun tak mengira, Prasetyo masih mengenang dirinya sebagai tukang cukur rambut langganan masa kecil politisi Partai Gerindra tersebut.

“Saya heran Pak Prasetyo masih mengingat saya. Saya kasih tahu istri malah nggak bisa tidur dan terenyuh. Saya juga tidak menyangka. Saya sampaikan terima kasih sekali, karena kalau berangkat sendiri uang darimana saya,” ungkapnya terharu.

Kebahagian Saleh sebagai tukang cukur rambut semakin lengkap lantaran dua anaknya sudah berkeluarga dan bekerja ditempat yang mapan. Anaknya pertama bekerja di bagian kesehatan Polres Ngawi. Sedang anaknya yang kedua bekerja di Bank Jatim.

Diusianya yang makin senja, Saleh tak banyak mengejar materi. Mengisi waktu setiap hari sebagai tukang cukur rambut sudah membuatnya bahagia meski uang yang didapatkan tidak seberapa. “Seberapun yang saya dapatkan hari ini tetap akan saya syukuri karena itu akan menjadi berkah bagi keluarga kami,” pungkas Saleh. (Mei/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!