Dilema Anggaran MBG: Menkeu Beri Sinyal Tolak Anggaran Motor BGN, Fokus pada Piring, Bukan Kendaraan
JAKARTA | INTIJATIM.ID – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tengah menjadi sorotan, bukan karena menu makanannya, melainkan karena silang pendapat mengenai pengadaan ribuan unit motor listrik untuk operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan sinyal keras terkait efisiensi anggaran. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya cenderung menolak pengajuan anggaran untuk pembelian kendaraan operasional dan perangkat komputer yang dianggap belum mendesak.
Dalam keterangannya, Purbaya menekankan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) seharusnya memprioritaskan alokasi dana untuk kualitas dan distribusi makanan kepada masyarakat, ketimbang pengadaan aset fisik operasional.
”Bukan tidak boleh, tapi kita harus tahu programnya seperti apa. Harusnya utamanya untuk makanan. Tahun lalu sempat kita menolak untuk membeli komputer yang terlalu banyak dan membeli motor,” tegas Purbaya di Jakarta.
Purbaya menambahkan bahwa, ia akan melakukan pengecekan ulang (double check) terhadap pagu anggaran 2025 untuk memastikan apakah kebijakan penolakan tersebut tetap konsisten diterapkan guna menjaga marwah APBN yang tepat sasaran.
Di sisi lain, Kepala BGN, Dadan Hindayana, memiliki argumentasi berbeda. Menurutnya, motor listrik sangat krusial untuk mobilitas Kepala SPPG dalam mengawal distribusi dan kualitas gizi di lapangan secara cepat.
Dadan juga mengklarifikasi isu liar di media sosial yang menyebutkan pengadaan mencapai 70.000 unit. Ia menegaskan angka tersebut adalah hoaks.
”Informasi 70.000 unit itu tidak benar. Realisasi total motor listrik sebanyak 21.801 unit dari 25.000 unit yang dipesan di tahun 2025,” ungkap Dadan, dengan merinci bahwa pengadaan ini akan dilakukan secara bertahap mulai Desember 2025.
Perbedaan suara antara Kementerian Keuangan dan Badan Gizi Nasional ini mencerminkan adanya tantangan dalam sinkronisasi tata kelola program baru yang berskala masif.
Publik kini menunggu keputusan final. Apakah 21.801 motor listrik tersebut akan tetap “melaju” sebagai penunjang distribusi, atau “diparkir” demi menambah porsi nutrisi di piring anak-anak Indonesia. (OP/IJ)
![]()



Post Comment