Highlight

Air Mata Loper Koran ke Pintu Baitullah, Kisah Cak Ipul Menjemput Takdir Haji 2026

oplus 16908288

​SIDOARJO | INTIJATIM.ID – Gema Talbiyah “Labbaik Allahumma Labbaik” bukan sekadar kalimat bagi Syaiful Anam (64). Bagi pria yang akrab disapa Cak Ipul ini, kalimat itu adalah muara dari penantian panjang, tetesan air mata, dan kerja keras menjajakan lembaran koran di bawah terik matahari Sidoarjo.

​Tahun 2026 menjadi saksi takdir indah bagi warga Perumahan Bluru Permai ini. Ia dijadwalkan terbang menuju Tanah Suci pada 5 Mei mendatang melalui Kloter 53 Embarkasi Surabaya (SUB). Namun, perjalanan spiritual ini sejatinya dimulai 17 tahun silam, bermula dari sebuah rasa “iri” yang positif.

​Momen titik balik Cak Ipul terjadi pada tahun 2009. Saat itu, hatinya bergetar hebat menyaksikan tetangganya, Wak Saudi, menggelar syukuran Walimatul Muwadda’ah (pamitan haji).

​”Hati saya nkrentek (ingin sekali). Pulang ke rumah, saya langsung menangis di depan istri. Saya tanya, ‘Ma, tabungan kita ada berapa? Aku ingin haji,'” kenang Cak Ipul dengan mata menerawang.

​Istrinya, almarhumah Ulfah Gandawana, menjadi penguat pertama. Dengan bijak sang istri mengingatkan bahwa niat mulia harus dimulai dengan langkah nyata, yakni dengan mulai mendaftar ke bank. Saat itu, bisnis loper koran masih di masa jaya, memungkinkan Cak Ipul menyisihkan Rp 6-7 juta per bulan hingga kursi haji berhasil diamankan.

​Ujian kesabaran datang saat pandemi Covid-19 menghantam. Pada 16 Juli 2021, sang istri berpulang ke Rahmatullah. Mimpi untuk bersujud berdua di depan Ka’bah pun pupus. Namun, Allah Sang Maha Pengatur menggantikan posisi tersebut melalui sang putra, Billy Algazian Romadhon Akbar (30), yang akan mendampingi ayahnya melalui jalur pelimpahan porsi.

​Bagi Cak Ipul, haji bukanlah monopoli mereka yang bergelimang harta, melainkan undangan bagi mereka yang rindu. Di bawah bimbingan KBIHU Rohmatul Ummah (PCNU Sidoarjo), ia kini mematangkan manasik, memastikan ibadahnya sesuai rukun dan sunnah.

​”Siapa pun kalau hatinya terketuk, pasti dimudahkan Allah. Ada tukang tambal ban bisa berangkat, ada penjual beteng juga bisa. Kuncinya noto ati (menata hati), niat, dan ikhtiar,” pesannya lugas.

​Kini, loper koran ini siap menanggalkan atribut kerjanya sejenak, menggantinya dengan kain ihram putih yang suci. Sebuah bukti nyata bahwa ketika hamba memanggil, Sang Khaliq akan membukakan jalan dari arah yang tak disangka-sangka. (Rwy/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!