Highlight

Sasar Kemiskinan Ekstrem, Probolinggo Sulap Kedopok Jadi Laboratorium Budidaya Puyuh

oplus 16908288

PROBOLINGGO | INTIJATIM.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo meluncurkan strategi baru dalam memerangi pengangguran dan kemiskinan. Bukan dengan bantuan konsumsi, melainkan dengan modal produktif berupa budidaya burung puyuh skala masif. Program ini resmi dimulai dengan target mencetak peternak mandiri berpenghasilan jutaan rupiah per bulan. Bertempat di Pendopo Praja Muria, Rabu (29/4/2026).

​Ada yang berbeda dari skema bantuan kali ini. Jika biasanya bantuan ternak diberikan dalam jumlah kecil, Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, menginstruksikan pendistribusian langsung dalam skala industri kecil.

​Kuota per peternak diberikan sebanyak 1.000 ekor burung puyuh, dengan fasilitas: kandang permanen, bibit siap telur (usia 40 hari), dan pakan konsentrat. Pemerintah menyalurkan bantuan kepada 34 peserta pelatihan, dengan 17 penerima bantuan tahap awal dari kelompok masyarakat desil 1 dan 2.

​Kepala DKP3 Kota Probolinggo, Fitriawati, menjelaskan bahwa angka 1.000 ekor adalah angka psikologis agar peternak bisa merasakan dampak ekonomi yang nyata. “Kalau hanya 200 ekor, hasilnya habis untuk biaya operasional. Dengan 1.000 ekor, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 2 juta per bulan,” ungkapnya, Rabu (29/4).

​Program ini tidak dirancang dengan coba-coba. Berdasarkan hitungan teknis, proyeksi keberhasilan usaha ini cukup menjanjikan. Selain harga Telur Rp 26.000/Kg dengan produksi tahunan 4.500 Kg, masa produksi 2 minggu setelah serah terima akan balik modal pada 5 hingga 6 Bulan.

Dikatakan Aminuddin, Kecamatan Kedopok akan menjadi pilot project atau proyek percontohan. Ia menekankan bahwa musuh utama peternak bukanlah penyakit ternak, melainkan kedisiplinan manajemen.

​”Ini adalah proyek strategis. Jika di Kedopok berhasil, kita akan replikasi ke seluruh kecamatan. Saya ingin ini tidak hanya jadi contoh di tingkat kota, tapi menjadi model nasional dalam pengentasan kemiskinan,” jelas Wali Kota Probolinggo, Jawa Timur.

​Aminuddin juga mewanti-wanti para peternak untuk tertib dalam melakukan pencatatan produksi harian dan menjaga kebersihan sanitasi agar siklus produksi tetap stabil.

Sementara itu, ​Fadilah Arif Efendi, warga Jrebeng Wetan, menyambut optimis bantuan tersebut. Meski mengaku baru mengenal teknis budidaya puyuh, ia mulai terbiasa dengan ritme perawatan burung yang dikenal sensitif tersebut.

​”Kuncinya ternyata di ketelatenan. Pakan tidak boleh telat, air harus selalu ada, dan sirkulasi udara kandang harus dijaga. Tidak susah, tapi memang butuh perhatian ekstra,” pungkasnya. (Tif/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!