1 Muharram 1448 H Diprediksi Jatuh 16 Juni 2026, Intip Analisis Astronomi dan Kriteria MABIMS
PAMEKASAN | INTIJATIM.ID – Pergantian tahun baru Islam bukan sekadar momen refleksi spiritual, melainkan sebuah peristiwa ilmiah yang melibatkan presisi ilmu falak. Berdasarkan data astronomis terkini, awal tahun baru 1 Muharram 1448 Hijriah berpotensi kuat jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 Masehi.
Dosen Ilmu Falak dan Astronomi Islam UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag., menjelaskan bahwa kalender Hijriah memiliki fondasi ilmiah yang sangat kuat karena berbasis pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi (lunar calendar).
”Satu bulan baru dimulai ketika Bulan memasuki fase awal setelah terjadinya konjungsi (ijtima’) dan memungkinkan untuk diamati sebagai hilal,” ujar Prof. Achmad Mulyadi.
Mengintip Data Astronomis Hilal
Secara teknis, peristiwa ijtima’ (konjungsi) akhir Dzulhijjah 1447 H diprediksi terjadi pada Senin, 15 Juni 2026 M pukul 09:54:07 WIB. Peristiwa ini menandai berakhirnya siklus bulan yang lama sekaligus membuka peluang munculnya hilal baru.
Pada saat matahari terbenam di hari Senin tersebut, posisi hilal di wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan kondisi yang bervariasi:
Tinggi Hilal: Berkisar antara 0° 55’ 21’’ (Merauke) hingga 4° 01’ 09’’ (Sabang).
Elongasi (Jarak Sudut Bulan-Matahari): Berkisar antara 5° 38’ 26’’ (Merauke) hingga 6° 59’ 07’’ (Sabang).
Melihat data di atas, keterlihatan (visibilitas) hilal di sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori marginal atau tipis. Hal ini dikarenakan Indonesia menganut Kriteria MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan tinggi hilal minimum 3 derajat, dan elongasi minimum 6,4 derajat.
”Di wilayah timur seperti Merauke, posisinya memang masih di bawah kriteria MABIMS. Namun, di sebagian wilayah barat, khususnya Aceh dan sekitarnya, posisi hilal telah memenuhi bahkan melampaui batas minimal tersebut,” jelasnya.
Meskipun tidak seragam, Indonesia menganut prinsip wilayatul hukmi. Artinya, jika kriteria sudah terpenuhi di satu wilayah negara, maka hal itu menjadi dasar penetapan secara nasional.
”Oleh karena itu, 1 Muharram 1448 H berpotensi besar dan dapat ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026 M,” tegas Pakar Falak UIN Madura tersebut.
Lebih dari sekadar penentuan tanggal, Prof. Achmad menekankan bahwa perkembangan ilmu falak modern membuktikan bahwa agama dan sains tidak saling bertentangan. Penentuan kalender Hijriah merupakan perpaduan harmonis antara tiga unsur. Yakni, Wahyu (landasan normatif), Akal (metode hisab presisi), dan Pengalaman Empiris (observasi/rukyat).
“Penggunaan teknologi modern seperti teleskop canggih dan kamera CCD terbukti sangat membantu meningkatkan akurasi prediksi, tanpa menghilangkan esensi kalender Hijriah sebagai instrumen pemersatu umat,” ungkap Prof Achmad.
Sebagai penutup, Prof. Achmad mengajak umat Muslim memanfaatkan momentum transisi tahun 1447 H ke 1448 H ini sebagai ajang muhasabah (evaluasi diri).
”Menyambut Tahun Baru 1448 H adalah momentum memperkuat semangat pembaruan intelektual, moral, sosial, dan spiritual,” pungkasnya seraya mengutip QS. Yunus ayat 5 tentang keteraturan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah SWT. (Say/IJ)
![]()



Post Comment