Highlight

Gebrakan SMK Antartika 2 Sidoarjo: Tinggalkan Pola Lama, Ajarkan Siswa Bidik Pasar Lewat AI

oplus 16908288

SIDOARJO | INTIJATIM.ID — Paradigma lama dalam dunia wirausaha yang berprinsip “bikin produk dulu, urusan jual belakangan” sudah tidak relevan di era digital. Menyadari tantangan tersebut, SMK Antartika 2 Sidoarjo mengambil langkah taktis dengan menggandeng para praktisi industri untuk membekali ratusan siswanya strategi validasi pasar berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
​Langkah ini dikemas dalam Workshop Riset Pasar dalam Pengembangan Kewirausahaan Murid SMK yang digelar di lingkungan sekolah, pada Kamis (2/7/2026).
​Hadir sebagai pemateri utama, Arvendo Mahardika, praktisi bisnis media sekaligus Koordinator Bidang Teknologi dan Ekonomi Kreatif Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Malang Raya. Ia menekankan pentingnya pelajar sekolah kejuruan untuk melek teknologi masa kini, khususnya dalam memanfaatkan AI untuk membaca perilaku pasar.
​Dalam paparannya, Pemimpin Redaksi AboutMalang.com tersebut mengenalkan konsep yang terbilang baru bagi ranah SMK, yaitu Generative Engine Optimization (GEO).
​Menurut Arvendo, riset pasar hari ini sudah melompat jauh. Pelaku usaha tidak hanya dituntut mencari data audiens secara manual, melainkan harus paham bagaimana sebuah sistem AI merekomendasikan sebuah produk.
​”Anak-anak SMK harus mulai paham bagaimana konten dan produk mereka nantinya disintesis dan direkomendasikan oleh mesin pencari AI,” tegas Arvendo di hadapan ratusan siswa yang antusias.
​Selain GEO, ia juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas jurusan. Arvendo mencontohkan bagaimana divisi visual atau desain saat ini wajib memiliki kemampuan meracik narasi yang kuat (storytelling). Konten-konten berbasis slice of life (potongan cerita sehari-hari) di media sosial dinilai menjadi standar baru yang sangat efektif untuk memikat hati konsumen.
​Senada dengan Arvendo, Direktur Utama Macroscope, Osman Nur Chaidir, turut membedah anatomi siklus bisnis dari kacamata manajerial. Ia mengingatkan para siswa bahwa mayoritas bisnis baru tumbang di tahun pertama bukan karena modal, melainkan karena masalah internal (people-centered issue) dan lemahnya validasi pasar.
​”Sebelum melangkah jauh ke perencanaan, kuasai dulu pola pikir kewirausahaannya. Tetapkan target dengan prinsip SMART dan tentukan orientasi perusahaan sejak awal, apakah ingin bergerak sebagai Social-based, Start-Up Model, atau Lean Model Company,” papar Osman.
​Inisiatif sekolah mempertemukan siswa langsung dengan pelaku industri ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala SMK Antartika 2 Sidoarjo, Retno Purwolystiorini, Retno mengakui, dari segi kemampuan teknis (hard skills), anak didiknya sudah mampu membuat produk yang luar biasa. Namun, mereka masih membutuhkan bimbingan dari sisi komersialisasi dan membaca peluang pasar.
​”Kalian yang hadir di sini adalah pionir. Kesuksesan kalian nantinya wajib ditularkan kepada teman-teman lainnya. Wirausaha itu tidak boleh ngawur atau asal tabrak, semuanya harus berlandaskan riset pasar,” pesan Retno kepada para siswanya.
​Sinergi antara praktisi media, pakar manajemen, dan pihak sekolah ini diharapkan dapat menjadi bahan bakar baru untuk mengakselerasi program Teaching Factory (TeFa) di SMK Antartika 2 Sidoarjo.

“Targetnya jelas, yakni mencetak lulusan yang tidak hanya andal sebagai kreator atau pembuat produk, tetapi juga tangguh dan siap bersaing di lanskap ekonomi digital global, ” pungkasnya. (Vit/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!