Highlight

Tekan Inflasi dari Pekarangan, Ning Ita Masifkan Gerakan Cabenisasi di Kota Mojokerto

oplus 16908288

MOJOKERTO | INTIJATIM.ID – Pemkot Mojokerto terus memacu program Gerakan Cabenisasi sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengendalikan laju inflasi daerah. Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, turun langsung memberikan penguatan program ini kepada warga di Kelurahan Pulorejo dan Kelurahan Wates, Selasa (5/5/2026).

​Program ini bertujuan mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan mandiri, sehingga ketergantungan terhadap pasar dapat berkurang, terutama saat harga komoditas melonjak.

​Sebagai langkah konkret dukungan pemerintah, setiap Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Pulorejo menerima paket bantuan bibit tanaman produktif untuk dibagikan kepada warga. Paket tersebut meliputi ​300 bibit cabai, ​150 bibit bungkul (kembang kol), dan ​150 bibit kangkung.

​Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita tersebut menegaskan bahwa cabai merupakan komoditas krusial yang sering memicu fluktuasi inflasi. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya melulu soal beras atau jagung.

​”Ketahanan pangan itu tidak hanya bahan pokok seperti beras, jagung, singkong, atau tebu. Cabai ini juga bagian vital dari program ketahanan pangan,” tegasnya.

Ning Ita menambahkan, jika setiap rumah tangga memiliki setidaknya 10 pohon cabai, maka permintaan pasar akan menurun secara alami, yang pada gilirannya akan menstabilkan harga.

​”Paling tidak (paling boten), lonjakan cabai ke pasar berkurang karena semua rumah sudah punya cabai sendiri (duwe lombok dewe-dewe). Jadi saat harga melonjak, warga tidak perlu panik karena tinggal petik di pekarangan,” jelasnya menggunakan bahasa yang akrab di telinga warga.

​Gerakan Cabenisasi ini tidak berdiri sendiri. Pemanfaatan lahan pekarangan juga menjadi salah satu indikator utama dalam penilaian Budaya RT Berseri, sebuah inisiatif lingkungan yang digagas langsung oleh Ning Ita untuk menciptakan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, dan produktif.

​Melalui sosialisasi yang dilakukan secara maraton dari Kelurahan Pulorejo hingga Kelurahan Wates, Pemkot Mojokerto berharap kemandirian pangan bukan lagi sekadar wacana, melainkan menjadi gaya hidup baru masyarakat kota di tengah fluktuasi ekonomi global,” tutup Walkot Mojokerto. (Dod/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!