Highlight

Urai Banjir Surabaya Selatan, Wali Kota Eri Cahyadi Tata Ulang Konektivitas dan Elevasi Saluran

oplus 16908288

SURABAYA | INTIJATIM.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan langkah strategis untuk menuntaskan soal banjir di wilayah selatan. Bukan sekadar memperbesar kapasitas drainase, fokus utama kini dialihkan pada integrasi sistem saluran dan sinkronisasi elevasi (ketinggian) air agar aliran limpasan hujan mengalir lebih optimal menuju hilir.

​Untuk memastikan teknis di lapangan berjalan akurat, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik vital, pada Senin (4/5/2026). Peninjauan diawali dari Rumah Pompa Ahmad Yani, menyisir Jalan Gayungsari Barat, hingga berakhir di Rumah Pompa Nanggala, Dukuh Menanggal.

​Dalam tinjauannya, Eri Cahyadi menegaskan bahwa genangan yang kerap muncul di wilayah selatan seringkali bukan disebabkan oleh kecilnya dimensi saluran, melainkan sistem antarwilayah yang belum terhubung dengan sempurna.

​”Hari ini kita mengoneksikan dan mengoreksi bagaimana satu area terhubung dengan area lainnya. Persoalan banjir ini tidak semata karena kapasitas, tapi karena belum terintegrasinya aliran air,” ungkapnya di sela-sela peninjauan.

​Integrasi ini sangat krusial mengingat topografi Surabaya Selatan memiliki tantangan jarak buang yang cukup jauh. Aliran air dari kawasan Karah, Gayungsari, hingga Ahmad Yani harus menempuh perjalanan panjang menuju Avur Wonorejo di sisi timur.

​Salah satu temuan penting dalam sidak kali ini adalah ketidakseragaman elevasi saluran. Wali Kota menyoroti fenomena di mana saluran di Dukuh Menanggal terlihat kering, sementara di kawasan Gayungsari air justru menggenang.

“​Kondisi ini menunjukkan adanya sumbatan aliran akibat perbedaan ketinggian dasar saluran yang tidak sinkron,” jelas Eri Cahyadi, Senin (4/5).

Secara teknis, kata Eri, air dari Gayungsari seharusnya mengalir menuju Dukuh Menanggal untuk kemudian dibuang oleh Rumah Pompa Nanggala ke Kali Perbatasan Surabaya-Sidoarjo.

​”Elevasinya kita tata ulang. Tadi saya temukan saluran sudah ada, tapi elevasinya tidak sama atau bahkan lebih tinggi di titik tertentu. Itulah mengapa air tidak jalan. Kita samakan semua elevasinya agar air tertarik maksimal ke pompa,” tegasnya.

Wali Kota Surabaya menginstruksikan jajaran Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), serta camat dan lurah untuk memahami betul peta buta aliran air di wilayah masing-masing. Ia tidak ingin pembangunan saluran di masa depan dilakukan secara parsial tanpa melihat keterhubungan dengan wilayah tetangga,” tandasnya.

​Dengan penataan yang terintegrasi ini, Pemkot Surabaya optimis risiko genangan di wilayah selatan dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memastikan infrastruktur yang dibangun berfungsi efektif selama puluhan tahun ke depan. (Rwy/IJ)

Sumber: Pemkot Surabaya

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!