Highlight

Strategi Benteng Energi, Indonesia Matangkan Rencana Kemandirian di Tengah Gejolak Global

oplus 16908288

​JAKARTA | INTIJATIM.ID – Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik Timur Tengah yang mengancam rantai pasok dunia, Pemerintah Indonesia mengambil langkah proaktif untuk mengamankan kedaulatan energi nasional.​Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Istana Merdeka, Senin (27/4/2026).

Pertemuan strategis ini membedah kondisi terkini pasokan BBM, stok minyak mentah, hingga rencana besar memangkas ketergantungan impor gas.

​Bahlil menegaskan bahwa meski konflik di sekitar Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran global, ketahanan energi Indonesia sejauh ini tetap kokoh. Seluruh spek BBM, baik solar maupun bensin, berada di atas standar minimum nasional.

Selain itu, lanjut Bahlil, selama dua bulan terakhir, distribusi energi tetap stabil tanpa kendala berarti, sedangkan stok crude untuk kebutuhan kilang (refinery) dipastikan aman dan melampaui ambang batas minimum.

​”Alhamdulillah, sudah hampir 2 bulan sejak kejadian geopolitik di Timur Tengah, kondisi kita masih stabil. Stok kita relatif tidak ada masalah,” ujar dalam keterangannya di Jakarta.

​Salah satu tantangan terbesar saat ini, kata Bahlil, adalah kesenjangan antara konsumsi dan produksi LPG. Dengan konsumsi mencapai 8,6 juta ton per tahun sementara produksi domestik hanya 1,7 juta ton, Indonesia masih sangat bergantung pada keran impor.

“​Sebagai solusi, pemerintah tengah menggodok penggunaan Compressed Natural Gas (CNG). Ini salah satu alternatif terbaik untuk mendorong kemandirian energi kita di sektor gas. Saat ini masih dalam tahap finalisasi pembahasan,” jelas Menteri ESDM, Senin (27/4).

​Menghadapi dinamika dunia, Bahlil memaparkan tiga langkah taktis yang diperintahkan Presiden untuk memperkuat fundamental energi nasional. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pemadam kebakaran dalam menghadapi krisis jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang.

Melalui kombinasi peningkatan lifting migas dan hilirisasi produk nabati (biodiesel & bioetanol), Indonesia berupaya memutus rantai ketergantungan pada pasar energi global yang fluktuatif.

​”Kita ingin memastikan Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi semakin mandiri menghadapi dinamika energi dunia,” pungkas Bahlil. (OP/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!