Dobrak Tradisi, Santri IBS PKMKK Pamekasan Lahirkan 206 Karya Literasi hingga Tembus Pasar Global
PAMEKASAN | INTIJATIM.ID – Pondok pesantren kini bukan lagi sekadar tempat menghafal kitab klasik. Di tangan para santri Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, Madura, pesantren telah bertransformasi menjadi laboratorium intelektual yang produktif. Hingga Mei 2026, lembaga ini mencatatkan rekor impresif dengan menerbitkan total 206 karya ber-ISBN.
Fenomena ini memuncak pada awal Mei 2026 dengan dirilisnya sembilan buku terbaru karya santri. Menariknya, karya-karya tersebut tidak hanya berbicara soal agama, tetapi merambah genre novel, kritik sosial, hingga filsafat, bahkan ditulis dalam bahasa Inggris.
Heni Listiana, Dosen Pascasarjana UIN Madura sekaligus Direktur Pengembangan Life Skill IBS PKMKK, menyebut capaian ini sebagai pergeseran epistemologis.
“Ini penanda lahirnya kesadaran baru. Santri tidak lagi hanya menjadi konsumen atau pembaca teks, tetapi telah naik kelas menjadi pencipta teks. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tapi membangun peradaban lewat tulisan,” ujar Heni, Jumat (9/5/2025).
Salah satu karya yang mencuri perhatian dunia akademik adalah novel berbahasa Inggris berjudul Moonstruck With You karya Naurah Resa Alana (Sang Kinasih). Ini merupakan buku ketiganya, yang membuktikan bahwa sekat bahasa bukan lagi penghalang bagi santri Madura untuk menyapa dunia global.
Sembilan buku yang baru saja diluncurkan menunjukkan kedalaman pemikiran generasi Z di lingkungan pesantren. Seperti, Moonstruck With You (Naurah Resa Alana) Fiksi berbahasa Inggris, Masa Depan (Moh Farel Ardan), Siapa yang Mencuri Bayanganku (Balqis Firdaus), Uncovering The Secrets of Death (Akvi Karomatin Aini), Fiat Justitia “Runtuhnya Langit Kono” (Sherin Safitri), Gema Tanpa Suara (Syifatul Fajariyah), Sunya-Arka (Tria Fahira Nuramaja), Gema Sunyi di Langit Anantara (Hilya Zariratu Ilmina), dan A Whistle Blower (Tuhfah el Zaheera Rambe).
Keberhasilan menerbitkan 206 buku dalam waktu empat tahun ini, di mana 26 di antaranya berbahasa Inggris bukanlah kebetulan. Heni menjelaskan bahwa IBS PKMKK secara sistematis membangun ekosistem yang memberikan rasa aman secara psikologis (psychological safety).
“Ketika santri diberi ruang untuk bereksperimen dan tidak takut dihakimi saat salah, potensi intelektual mereka muncul secara alami. Menulis menjadi ruang bagi mereka untuk menegosiasikan identitas di tengah gempuran budaya digital,” jelas Anggota Senat UIN Madura tersebut.
Transformasi ini meruntuhkan stigma lama tentang pesantren yang dianggap eksklusif dan tertutup dari modernitas. Dengan penguasaan bahasa internasional dan kemampuan mengartikulasikan gagasan kritis seperti keadilan sosial dan moralitas, santri IBS PKMKK sedang mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan.
Fenomena “206 Karya” ini menjadi pesan kuat bagi dunia pendidikan di Indonesia: bahwa dari balik dinding pesantren di pelosok Madura, tengah tumbuh generasi baru yang tidak hanya akan membaca sejarah, tetapi siap menuliskan sejarah mereka sendiri. (Say/IJ)
![]()



Post Comment