Tutup Bulan Suro, Kirab Budaya Bantarangin Tegaskan Ponorogo Sebagai ‘Jawa Premium’
PONOROGO | INTIJATIM.ID – Kemeriahan bulan Muharam di Bumi Reog resmi ditutup dengan kemegahan Kirab Budaya Bantarangin, pada Kamis (16/7/2026). Gelaran yang mengambil rute start dan finish di Monumen Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman ini sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata sekaligus menegaskan identitas Ponorogo sebagai pusat kelestarian budaya Jawa.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang hadir langsung dan menjadi pusat perhatian bak “bintang tamu” dalam acara tersebut. Ia menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme masyarakat yang luar biasa. Pun, sepakat dengan julukan netizen di berbagai media sosial yang menyematkan predikat khusus bagi kabupaten ini.
“Kalau kita lihat di Facebook, TikTok, atau Instagram, Ponorogo benar-benar sudah dilihat sebagai ‘Jawa Premium’. Gelaran Grebeg Tutup Suro Bantarangin ini membuktikan hal itu,” terang perempuan yang akrab disapa Bunda Lis tersebut.
Kemeriahan Kirab Budaya Bantarangin dinilai mampu menandingi sakralnya Kirab Pusaka Lintasan Sejarah yang digelar pada awal Suro lalu. Sepanjang perlintasan, masyarakat disuguhi beragam atraksi kebudayaan, teatrikal perjalanan sejarah Kerajaan Bantarangin, hingga penampilan memukau kesenian khas Ponorogo.
Tingginya animo warga yang memadati jalur utama Ponorogo-Wonogiri sejak siang hari sempat memicu kepadatan arus kendaraan. Guna mengurai kemacetan, Satlantas Polres Ponorogo dengan sigap melakukan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah titik dan mengalihkan kendaraan ke jalan alternatif.
Bunda Lis menekankan bahwa kirab budaya ini bukan sekadar arak-arakan untuk tontonan, melainkan media refleksi bahwa masyarakat Ponorogo memiliki peradaban tinggi dan sadar akan sejarah. Terlebih, kawasan eks-Pembantu Bupati (PB) Somoroto di Kecamatan Kauman memiliki nilai historis yang kuat bagi kebudayaan Ponorogo.
”Kalau bicara konstelasi sejarah, cikal bakal Reog Ponorogo lahir dari Kerajaan Bantarangin. Kini, kekayaan budaya kita sudah mulai mendunia dengan diakuinya Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO,” jelasnya penuh kebanggaan.
Selain aspek pelestarian leluhur, momentum Grebeg Tutup Suro Bantarangin terbukti membawa dampak instan pada perputaran ekonomi lokal. Kehadiran ribuan penonton menjadi berkah musiman yang manis bagi para pelaku usaha kecil.
“Lapak pedagang kaki lima dan UMKM dari ujung ke ujung jalan dilaporkan penuh dan ramai pembeli sejak siang hari,” ungkap Plt Bupati Ponorogo tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Bunda Lis juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Bupati Ponorogo periode 2010–2015, H. Amin, yang turut memberikan dukungan besar bagi pengembangan budaya Bantarangin di tanah kelahirannya, Kecamatan Kauman.
”Sinergi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, kepala desa, serta lintas sektor menjadi bukti bahwa menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama demi Ponorogo yang maju, berbudaya, dan sejahtera,” pungkasnya. (Nung/IJ)
![]()



Post Comment