Badai Harga BBM Non-Subsidi: Pertamina Naikkan Harga, Sektor Transportasi Global Terguncang
JAKARTA | INTIJATIM.ID – Masyarakat Indonesia kembali harus merogoh kocek lebih dalam menyusul kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang diberlakukan PT Pertamina (Persero) mulai Selasa, 5 Mei 2026 kemarin. Kenaikan yang dipicu oleh gejolak energi global ini menyasar tiga jenis BBM utama, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Kenaikan harga kali ini bervariasi antara Rp500 hingga Rp4.000 per liter. Berdasarkan data terbaru di wilayah Jakarta, harga Pertamax Turbo naik tipis menjadi Rp19.900 per liter. Namun, kenaikan tajam justru terjadi pada lini diesel, seperti Dexlite kini dibanderol Rp26.000 per liter (naik Rp2.400), sementara Pertamina Dex melonjak signifikan sebesar Rp4.000 menjadi Rp27.900 per liter.
Di sisi lain, Pertamina memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter untuk menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Menanggapi situasi ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa Pemprov DKI tidak akan memberikan subsidi tambahan untuk pengguna BBM non-subsidi. Sebagai solusinya, pemerintah daerah mendorong warga untuk beralih ke transportasi umum guna menekan biaya pengeluaran harian,” ujarnya.
Bank Indonesia (BI) melalui Deputi Gubernur Aida S. Budiman memperkirakan kenaikan ini akan menyumbang inflasi sekitar 0,04%. Meski demikian, BI tetap optimis pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 akan terjaga di kisaran 4,9% hingga 5,7 persen,” jelasnya.
Dikutib dari Sindo News, efek domino krisis energi global akibat konflik berkepanjangan di Teluk Persia mulai melumpuhkan industri penerbangan internasional. Di Amerika Serikat, maskapai Spirit Airlines terpaksa menghentikan operasional sementara, membuat ribuan penumpang terdampar di bandara.
Sementara di Eropa, maskapai raksasa seperti Lufthansa dan Scandinavian Airlines mulai memangkas jadwal terbang akibat harga avtur yang meroket hingga dua kali lipat.
Laporan menyebutkan bahwa cadangan minyak terapung (floating storage) global, termasuk milik Rusia, mulai menyusut drastis. Dengan lumpuhnya jalur vital di Selat Hormuz, pasokan energi ke negara-negara importir utama di Asia seperti India dan China kini menghadapi tantangan berat, yang diprediksi akan semakin memperketat pasar energi dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Kenaikan harga ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah untuk segera mempercepat transisi energi dan memperbaiki sistem transportasi publik demi menghadapi ketidakpastian ekonomi global. (OP/IJ)
![]()



Post Comment