Highlight

Diplomasi Budaya Magetan: Bidik Investasi dan Pasar Nasional di Anjungan Jatim TMII

oplus 16908288

​JAKARTA | INTIJATIM.ID – Aroma pegunungan Lawu seolah berpindah ke jantung ibu kota. Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Pemkab Magetan sukses menyulap Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menjadi panggung megah bertajuk “Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) dan Pameran Produk Unggulan Kabupaten Magetan”, Jumat malam (17/4/2026).

​Acara ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan sebuah pernyataan diplomasi budaya dan ekonomi kreatif Magetan untuk merambah pasar yang lebih luas.

Pembukaan dimulai dengan gemulai Tari Puspita Lawu. Para penari dengan kostum merak yang ikonik membius penonton lewat bahasa tubuh yang luwes namun kokoh. Tarian ini bukan sekadar hiburan, ia adalah personifikasi dari keteguhan hayati dan filosofi kehidupan masyarakat lereng Gunung Lawu yang tetap bertahan di tengah arus zaman.

​Nuansa modernitas turut hadir saat Savana D’Academy 7 melantunkan lagu daerah, mengiringi deretan model yang membawakan busana Batik Khas Magetan. Tak ketinggalan, kerinduan penonton pada sosok legendaris Didi Kempot terobati lewat penampilan Udin Genxut, yang membawakan tembang-tembang “Broken Heart” seperti Kalung Emas dengan penuh penjiwaan.

​Ketua Ikatan Keluarga Magetan (IKMA), Purn. Laksamana Muda TNI Yoos Suryono Hadi, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya kini bertransformasi menjadi instrumen strategis.

​”IKMA bukan sekadar wadah silaturahmi, tapi harus menjadi katalisator dan penghubung potensi. Ini adalah titik konsolidasi untuk meneguhkan komitmen kita bagi kemajuan Magetan secara kolektif,” tegasnya, Jumat (17/4).

Bang Yoos (sebutan akrabnya red), memberikan catatan khusus bagi pelaku UMKM Magetan untuk terus beradaptasi dengan teknologi digital tanpa meninggalkan kualitas inovasi produk agar tetap eksis di kancah nasional,” tambahnya.

​Sementara itu, Bupati Magetan, Hj. Nanik Endang Rusminiarti, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Baginya, momentum di TMII adalah pintu gerbang menuju investasi dan peningkatan kunjungan wisata.

​”Nama Magetan dengan segala potensinya harus lebih dikenal, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Kami berharap IKMA menjadi duta yang membantu mempromosikan kekayaan kita ke khalayak yang lebih luas,” ungkap Bunda Nanik, sebutan akrab Bupati Magetan.

​Sebagai pamungkas, panggung tersebut digetarkan oleh drama tari kolaborasi Sandosa berjudul “Gembring Baring Kawedar Ing Bumi Mageti”. Lakon ini menghidupkan kembali sosok Raden Ronggo Prawirodirjo III, Bupati Wedana Mancanegara Wetan yang legendaris.

Pertunjukan pun berhasil memotret sisi humanis sekaligus patriotik sang bupati dalam melawan kolonialisme demi harga diri bangsa. Pesan perlawanannya yang ikonik menyampaikan bahwa ia hanya akan menghabisi mereka yang menjadi beban bagi rakyat Jawa dan Tionghoa, hingga menjadi penutup yang dramatis sekaligus reflektif bagi seluruh hadirin.

Melalui perhelatan ini, Magetan membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan, menciptakan daya tawar ekonomi yang berakar kuat pada identitas budaya. (Red/IJ)

Loading

Share this content:

Post Comment

error: Content is protected !!