Rawat Tradisi Luhur, Disbudpar Magetan Gelar Ritual Pengambilan Air Suci di Sumber Molang
MAGETAN | INTIJATIM.ID – Dalam rangka melestarikan warisan leluhur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan bersama para penggiat seni budaya menggelar ritual sakral pengambilan air di Sumber Molang, Desa Bedagung, Kecamatan Panekan, pada Senin (22/6/2026).
Prosesi yang berlangsung khidmat ini bertepatan dengan weton Senin Kliwon, yang menandai dimulainya rangkaian perayaan perhelatan budaya Joyo Jayaning Nuswantoro Ke-6.
Air murni yang diambil dari Sumber Molang ini nantinya tidak digunakan sembarangan. Menurut tata cara adat, air tersebut akan disatukan dengan air dari enam sumber mata air keramat lainnya di wilayah Magetan.
Gabungan “Tujuh Mata Air” (Sampur Sari) inilah yang akan digunakan untuk ritual jamasan, yaitu prosesi penyucian atau pembersihan benda-benda pusaka daerah.
Kepala Disbudpar Kabupaten Magetan, Suwito, menegaskan bahwa agenda tahunan ini bukan sekadar seremonial tanpa makna. Kegiatan ini merupakan upaya konkret pemerintah dan masyarakat dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang.
”Hari ini, bertepatan dengan Senin Kliwon, kami melaksanakan prosesi pengambilan air murni di Desa Bedagung. Salah satu ritual utama dari Joyo Jayaning Nuswantoro Ke-6 ini adalah menyucikan pusaka menggunakan air yang bersumber dari tujuh mata air berbeda,” jelasnya disela-sela acara.
Selama prosesi berlangsung, seluruh tahapan pengambilan air wajib mengikuti pakem adat yang berlaku secara ketat. Suwito menambahkan, pendekatan budaya seperti ini sengaja dipertahankan agar esensi spiritual dan sejarah masa lampau tidak pudar tergerus modernisasi.
“Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah daerah, ritual ini juga dirancang sebagai media edukasi publik, khususnya bagi generasi muda di Magetan yang mulai asing dengan budaya lokal,” ungkap Suwito kepada intijatim.id
Melalui visualisasi ritual ini, masyarakat diajak untuk melihat langsung bagaimana harmoni antara manusia, alam (mata air), dan sejarah (benda pusaka) dijaga.
”Kami menyelenggarakan acara ini agar nilai-nilai kebudayaan kita tetap lestari. Dengan demikian, generasi penerus dapat mengenali, memahami, dan pada akhirnya mengimplementasikan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari,” pungkasnya.
Perayaan Joyo Jayaning Nuswantoro sendiri diharapkan dapat terus menjadi pemantik pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Magetan, sekaligus menegaskan identitas daerah yang kaya akan nilai historis. (Red/IJ)
![]()



Post Comment